Perkembangan Program Literasi Media di Indonesia

Oleh B. Guntarto
Dipresentasikan dalam Konferensi Nasional Literasi Media 2011 di Yogyakarta

Abstrak

Makalah ini mencoba menelusuri perkembangan program literasi media di Indonesia sejak tahun 1990an hingga 2010. Analisis[U1] dilakukan dengan membandingkan seberapa jauh program tersebut memiliki kesesuaian atau kedekatan dengan konsep literasi media yang baku yang sudah diterapkan di berbagai negara. Minimnya dokumentasi dan sulitnya menemukan narasumber[U2] mengarahkan penulis pada pendalaman terhadap program literasi media pada dua lembaga utama, yakni Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia dan Yayasan Pengembangan Media Anak sebagai yang memiliki konsistensi dalam mengembangkan literasi media. Informasi dari beberapa lembaga pelaksana program literasi media memperkaya makalah ini. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa program literasi media diadakan lebih dalam konteks perlindungan terhadap anak dari dampak negatif media, terutama televisi. Program Pendidikan Media yang paling baru sekalipun, masih belum sesuai dengan apa yang dijalankan di beberapa negara. Dari kajian literatur, diperoleh pemahaman bahwa istilah yang paling tepat untuk program literasi media berbasis sekolah adalah “Pendidikan Literasi Media”.

Kata kunci: literasi media di Indonesia, perkembangan literasi media. pendidikan literasi media.

Pendahuluan

‘Literasi media’ (sebagai terjemahan dari media literacy) adalah istilah yang makin populer di Indonesia untuk menyebut berbagai aktivitas yang terkait dengan sikap kritis terhadap media, sekali pun bila ditelitu lebih dalam maka akan ditemukan ragam pemaknaan yang sangat bervariasi. Makalah ini akan menelusuri perkembangan literasi media atau kegiatan yang sangat erat terkait meskipun tidak diistilahkan dengan literasi media yang dilakukan oleh berbagai lembaga.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai arah dan perekembangan program, pemahaman, dan penerapan konsep literasi media yang hidup dan berkembang di masyarakat dalam format yang lebih sistematis dan kronologis. Data temuan penelitian tentu akan sangat bermanfaat bagi pengembangan lebih jauh sesuai dengan kebutuhan bangsa kita, dan dapat menjadi rujukan bagi siapa saja yang menaruh minat untuk melaksanakan program-program literasi media dalam bentuk apa pun.

Pertanyaan penelitian ini adalah: bagaimana perkembangan kegiatan, pemahaman, dan penerapan konsep literasi media di Indonesia? Seberapakah ragam pemahaman berbagai lembaga mengenai konsep ini? Hal ini perlu dilakukan mengingat banyaknya institusi yang melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan sikap kritis terhadap media namun dengan pemahaman terhadap permasalahan maupun pemahaman terhadap konsep literasi media yang berbeda-beda. Tingginya frekuensi kegiatan tersebut merupakan indikasi bahwa masalah media dan khalayaknya di Indonesia telah direspon dalam berbagai bentuk oleh kelompok-kelompok di masyarakat entah itu berupa lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, lembaga negara, sekolah-sekolah, dan sebagainya. Untuk memudahkan penelusuran, makalah ini lebih fokus pada perkembangan literasi media di Indonesia antar tahun 1900 hingga tahun 2010.

Data utama yang dipakai dalam penulisan makalah ini didapatkan dari isian kuesioner yang disebar kepada berbagai lembaga yang memiliki program literasi media yang kemudian dilengkapi dengan wawancara mendalam. Kemudian, data tersebut ditambah dengan informasi dari Internet[U3], dokumentasi laporan kegiatan dan berita dari media massa, dan dari pengalaman pribadi penulis yang ikut terlibat dalam beberapa kegiatan tersebut. Penulis pernah bekerja pada Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dari tahun 1900 hingga 2006 dengan fokus pada masalah anak dan media. Kemudian aktif di Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) sejak berdiri tahun 2004 hingga sekarang.

Oleh karena kurun waktu 1990 sampai tahun 2010 cukup panjang, maka untuk memudahkan penelusuran, dibagi dalam dua periode waktu, yakni antara 1990 hingga 2000 dan antara tahun 2000 hingga tahun 2010.

Keragaman Konsep Literasi Media

Dari penelusuran berbagai literatur dan jurnal mengenai literasi media, maka dapat dipahami bahwa awal dari perkembangan literasi media terbagi dua: mereka yang percaya bahwa dampak media dapat membahayakan khalayak terutama anak; dan mereka yang ‘sekedar’ melakukan pengkajian terhadap isi media saja (Marten, 2010).

Di Indonesia, gejala yang ada menunjukkan bahwa kegiatan literasi media lebih dekat dengan yang pertama. Kelompok ini melihat bahwa interaksi dan pola konsumsi anak dengan media menunjukkan intensitas yang cukup tinggi dan kurang terkontrol, serta melihat bahwa isi media yang dikonsumsi anak-anak tidak cukup aman bagi perkembangan psikologisnya. Banyaknya materi dewasa, gaya hidup yang ditawarkan oleh media dengan cara yang sangat persuasif, iklan yang menggoda, dan berbagai materi lain yang dipandang belum semestinya dikonsumsi oleh anak masuk dengan derasnya ke dalam kepala dan pikiran anak. Selain itu, waktu yang digunakan untuk mengakses dan mengkonsumsi media selama sekitar tujuh jam sehari, adalah sebuah pemborosan waktu yang sangat besar dan sia-sia. (Guntarto, 2009).

Untuk merespon gejala ini, berbagai kegiatan yang dilakukan adalah berupaya untuk menekan pengaruh negatif itu sekecil mungkin dengan memberi penguatan dan tips kepada orangtua, guru, dan bahkan anak itu sendiri. Langkah ini hampir seluruhnya dilakukan sendiri oleh kelompok masyarakat yang sadar mengenai ancaman media dalam konteks untuk melindungi diri mereka sendiri dari pengaruh negatif media massa. Persoalan ini menjadi makin relevan sesudah dimulainya era reformasi tahun 1998 di mana media merasa memiliki kebebasan yang besar dan oleh karena itu berhak menggunakan sarana yang mereka miliki untuk mendapatkan keuntungan finansial sebesar-besarnya.

Dari pihak media, terutama lembaga penyiaran TV, ada slogan yang sering mereka gembar-gemborkan yakni “Dampingi Anak Anda Menonton TV”. Seolah dengan sudah memberikan imbauan tersebut, maka pihak lembaga penyiaran bebas menayangkan apa saja yang mereka mau karena mereka toh sudah memberi peringatan dan imbauan kepada orangtua.

Di lain pihak, orangtua pada umumnya memiliki sikap tidak berdaya melawan derasnya tayangan TV dan pola menonton TV pada anak yang tidak sehat tersebut. Mereka lebih mengharapkan agar lembaga penyiaran televisi mau memperbaiki isi tayangannya, dan mengharapkan agar pemerintah dapat mengatur lembaga penyiaran agar dapat menampilkan wajah yang lebih ramah bagi keluarga. Sikap dan harapan ini secara meluas banyak ditemukan di berbagai wilayah dengan berbagai tingkat status sosial dan ekonomi (YPMA, 2006).

Kelompok yang prihatin dengan pola interaksi anak dengan media dan prihatin dengan isi media yang tidak aman dan tidak sehat biasanya berasal dari kalangan orangtua, LSM yang peduli dengan perlindungan anak, institusi sekolah, institusi keagamaan, perguruan tinggi, kelompok mahasiswa, dan sebagainya. Kelompok ini berusaha keras menemukan cara-cara yang bisa diterapkan dalam mengurangi jam anak menonton TV, memilih tayangan, melakukan pendampingan yang benar, dan menyosialisasikannya melalui berbagai forum.

Beberapa organisasi yang bisa katakan memiliki kepedulian seperti itu misalnya adalah Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, Yayasan Kita dan Buah Hati, PP. Aisyiyah, Masyarakat Peduli Media, Pusat Kajian Media dan Budaya Populer, Yayasan Jurnal Perempuan, Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi, Yayasan Masjid Salman, Yayasan Pengembangan Media Anak, Komunitas Mata Air, Himpunan Mahasiswa Imu Komunikasi – FISIP UI, Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (IMIKI), Gerakan JBDK, Bandung School of Communication Studies, Koalisi Nasional Hari Tanpa TV, Yayasan Sahabat Cahaya, Komisi Penyiaran Indonesia (di tingkat pusat maupun di berbagai daerah), berbagai perguruan tinggi yang memiliki jaringan kerjasama dengan YPMA, dan lain-lain.

Dari identifikasi terhadap program yang mereka lakukan, dapat diketahui bahwa tidak semua lembaga tersebut memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep literasi media yang baku (konsep-konsep yang banyak dikembangakn di Eropa, Canada, dan kemudian Amerika Serikat). Hal itu tercermin dalam penyebutan nama atau tema program yang mereka jalankan, judul materi narasumber, dan seterusnya. Tampak bahwa motivasi dan referensi mereka untuk menyelenggarakan program tertentu adalah untuk memberdayakan orangtua, guru, dan pihak lain dalam upaya melakukan perlindungan anak dari dampak negatif media. Tema-tema seperti pemahaman terhadap industri media, mengenai bagaimana memahami dan menilai isi pesan media, pemahaman mengenai iklan, karakteristik media, dan lain-lain yang merupakan tema-tema dalam literasi media sesuai konsep bakunya, belum disentuh.

Di sisi yang lain, terdapat kelompok yang lebih menitikberatkan sikap kritis individu terhadap isi media yang mereka anggap melanggar kode etik atau peraturan yang lain. Kelompok ini memangan bahwa literasi media lebih berkaitan dengan fungsi pengawasan oleh masyarakat terhadap media. Misalnya, seperti yang dikemukakan oleh seorang pengamat media: Di dalam ”melek-media,” khalayak aktif tidak sekadar sebagai pemerhati atau pengamat tetapi aktif melakukan sesuatu jika media massa telah melakukan penyimpangan. Penyimpangan ini bisa mengenai informasinya yang salah, kurang tepat, tidak seimbang, dan semacamnya. Jika itu yang terjadi maka khalayak dapat melakukan protes. (Mulyana, 2002).

Mulyana mengidentifikasi adanya khalayak yang pasif terhadap isi media, dan khalayak yang aktif dalam mengkritisi isi media. Ia menyebut khalayak yang kedua sebagai khalayak yang “melek media”. Mulyana juga menekankan pentingnya hak jawab dan hak koreksi terhadap media apabila khalayak merasa dirugikan dengan pemberitaan media. Menurutnya, orang-orang yang bergerak di bidang media watch adalah khalayak aktif dengan tingkat literasi yang tinggi. Mereka menerbitkan hasil pantauannya di dalam medianya yang sengaja dibuat untuk itu. Cukup banyak orang yang mengikuti media hasil media watch tersebut dan mengritisinya. Mereka ini termasuk khalayak super aktif (Mulyana, 2002).

Pemikiran seperti ini juga ditemui dalam beberapa kegiatan literasi media yang diadakan oleh beberapa LSM dengan sponsor dari Yayasan Tifa. Perhatikan berita di bawah ini yang diambil dari situs lembaga yang bersangkutan:

Featured imagehttp://lespifoundation.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=55 Diakses 09/09/2010

Berita di atas memperlihatkan dengan gamblang bahwa literasi media lebih dipahami sebagai pengetahuan tentang pers, pengetahuan tentang kebebasan pers, pengawasan terhadap pers, serta prosedur pengaduan terhadap isi pers yang menyimpang. Tidak ada kaitan dengan perlindungan kelompok tertentu terhadap dampak negatif media yang kemudian mendorong untuk dilakukannya langkah preventif, seperti misalnya yang dilakukan oleh kelompok aktivis perlindungan anak.

Bentuk kegiatan lain yang menunjukkan keragaman pemahaman terhadap literasi media barangkali dapat dicontohkan dengan kegiatan yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Pusat dan Jawa Barat yang mengadakan kegiatan literasi media, seperti yang dimuat dalam berita di bawah ini:

Featured image

http://ngintipkampus.wordpress.com/2009/03/17/kpi-dan-kpid-jawa-barat-gelar-seminar-literasi-media/ Diakses 08/09/2010

Dari berita di atas, dapat dipahami bahwa KPI dan KPID memiliki keprihatinan mengenai dampak televisi pada khalayak. Namun melihat materi yang disampaikan, titik beratnya lebih pada pemahaman terhadap regulasi, pemahaman terhadap proses pembuatan berita, ajakan menonton TV lokal, ajakan masyarakat untuk mengawasi tayangan TV, dan paparan tentang bagaimana seharusnya isi tayangan TV. Jadi terlihat masih ada jarak antara judul tema yang diangkat yang sebenarnya sarat dengan upaya perlindungan pada anak dan remaja, dengan komposisi materi yang disajikan.

Keterlibatan narasumber yang berasal dari lembaga penyiaran menjadi pertanyaan besar karena sudah bisa dipastikan bahwa mereka akan menyampaikan sesuatu yang merupakan pembelaan tentang apa yang dilakukan oleh lembaga penyiaran TV, sementara literasi media menekankan tumbuhnya sikap kritis terhadap media. Kegiatan literasi media yang melibatkan narasumber dari industri media banyak dilakukan di berbagai daerah.

Literasi Media Periode 1990 – 2000: Periode Mencari Bentuk

Pada periode antara tahun 1990an hingga tahun 2000an dapat dikatakan merupakan periode kegiatan literasi media yang banyak memberi tekanan pada aspek perlindungan anak dari dampak media, terutama televisi. Kegiatan utamanya adalah memberi pemahaman pada orangtua dan guru mengenai dampak negatif menonton televisi, dan bagaimana menonton televisi yang benar agar terhindar dari dampak tersebut.

Paparan berikut menceritakan secara kronologis, kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) yang berkaitan dengan literasi media, berdasarkan data hasil kuesioner ditambah dengan dokumentasi lain. Keterbatasan dokumentasi dari berbagai lembaga dan keterbatasan narasumber menyebabkan paparan lebih fokus pada kegiatan satu lembaga, yang menurut penulis cukup dapat menggambarkan situasi yang ada dan mewakili periode ini. Kelemahan subyektif tentu tidak dapat dihindarkan mengingat keterlibatan penulis dalam berbagai rangkaian kegiatan tersebut cukup mendalam.

Pada bulan September 1991, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) menyelenggarakan sebuah workshop di tingkat regional Asia-Pasific, tentang anak dan televisi di Cipanas Jawa Barat. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dana dari International Children’s Centre, dan dukungan substansi dari Asian Media, Information and Communication Centre (AMIC) Singapore. Forum ini membicarakan isu tentang anak dan televisi yang sudah mulai aktual pada waktu itu dengan komprehensif dan mendalam, serta ansitipasinya di masa depan dalam konteks kewilayahan Asia.

Dalam deklarasi yang dihasilkan, dinyatakan bahwa “Untuk maksud baik ataupun buruk, televisi ada di sekeliling jutaan anak. Mereka menonton apa saja yang ada di televisi, dan televisi akan terus menerus menimbulkan pengaruh dalam kehidupan anak di Asia baik fisik, mental, emosi, dan perkembangan spiritualnya. Kekuatan besar dari televisi telah menimbulkan keprihatinan internasional untuk dapat memberikan perisai bagi dampak negatif televisi pada anak”. Deklarasi itu mengakui peran penting yang seharusnya dimainkan oleh televisi dalam membantu tumbuh kembang anak yang baik. Untuk itu peserta workshop mendorong perlunya peningkatan kualitas tayangan televisi untuk anak.

Salah satu kelompok kerja dalam workshop tersebut mendiskusikan tentang perlunya Pendidikan Media dengan fokus pada televisi, untuk diajarkan kepada anak-anak. Dalam hal ini, orangtua, guru, organisasi kesejahteraan anak, aktivis konsumen, LSM, dan berbagai lembaga pembela hak anak, dapat berperan besar. Secara lebih khusus, rekomendasi alam kelompok ini menyebutkan topik-topik yang perlu diajarkan dalam Pendidikan Media seperti bagaimana televisi bekerja; bagaimana acara TV diproduksi; bagaimana berbagai lembaga dapat mempengaruhi isi tayangan TV; tentang perkembangan anak dan kaitannya dengan pemahaman terhadap tayangan TV; bagaimana isi tayangan TV dapat mempengaruhi nilai, gaya hidup, dan perilaku pemirsa; bagaimana TV merepresentasikan realitas; panduan dalam menonton TV; dsb.

Kelompok ini juga merekomendasikan perlunya para guru, orangtua, pengasuh anak, berbagai lembaga di bidang anak, pekerja tempat penitipan anak, bahkan para produser acara TV harus mendapatkan pelatihan mengenai Pendidikan Media atau setidaknya konsep dasar mengenai sikap kritis dalam mengkonsumsi tayangan TV. Secara khusus, YKAI diharapkan dapat melaksanakan berbagai rekomendasi yang dihasilkan dalam workshop tersebut.

Tahun 1994, YKAI bersama dengan Litbang Departemen Penerangan (waktu itu) mengadakan penelitian analisis isi tentang adegan pro-sosial dan anti-sosial dalam tayangan anak. Hasil penelitian ini sempat menjadi polemik karena beberapa lembaga penyiaran yang ada waktu itu, mengadakan konferensi pers menolak dan mempertanyakan kualitas penelitian tersebut. Setidaknya, masyarakat menjadi tahu bahwa dalam tayangan anak, terdapat banyak sekali adegan anti-sosial yang didominasi dengan kekerasan.

Pada tahun yang sama, YKAI menyelenggarakan workshop tentang Pendidikan Media Televisi. Workshop ini menandai adanya kebutuhan untuk mulai secara serius memikirkan bagaimana memberi bekal pengetahuan dan keterampilan kepada anak-anak agar dapat berinteraksi dan mengonsumsi televisi dengan aman. Anak-anak perlu diberi ‘tameng’ agar dapat menangkal hal-hal negatif yang datang dari televisi. Sebagai tindak lanjut dari workshop tersebut kemudian diadakan seminar tentang “Bagaimana Menonton Televisi Yang Pas Untuk Anak”. Dalam seminar tersebut, YKAI menerbitkan sebuah booklet 20 halaman dengan judul yang sama yang ditujukan untuk orangtua.

Kerjasama dengan AMIC Singapore agaknya terus berlanjut. Tahun 1996, AMIC meminta YKAI untuk melakukan penelitian tentang tayangan TV untuk anak. Dana penelitian ini berasal dari UNICEF Regional yang berkantor di Bangkok. Penelitian dengan topi serupa pada saat bersamaan juga dilakukan di berbagai negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand, dan sebagainya. Setelah dikompilasi, hasil penelitian bersama ini diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Growing Up With TV: Asian Children’s Experience. Berikutnya di tahun 1999, dilakukan penelitian dengan pola serupa tentang pemberitaan mengenai anak yang dimua talam media, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Children in the News.

Penelitian yang dilakukan oleh YKAI secara mandiri adalah mengenai tayangan TV untuk anak dengan periode waktu antara bulan April 1996 sampai dengan bulan Mei 1997. Tidak diperoleh dokumen laporan hasil penelitian tersebut.

Berbagai seminar mengenai dampak televisi pada anak dan bagaimana orangtua harus bersikap, banyak diselenggarakan oleh berbagai institusi, sekolah, perguruan tinggi, dan lain-lain. Forum seminar tersebut biasanya diselenggarakan selama satu sesi atau setengah hari dengan tema-tema yang sangat populer yang dibutuhkan oleh para orangtua dan guru. Dalam konteks konsep literasi media yang seutuhnya, maka forum-forum tersebut mengambil porsi tertentu yang dianggap sesuai dengan kebutuhan.

Literasi Media Periode 2000 – 2010: Periode Pematangan

Bentuk lain dari seminar untuk orangtua adalah kegiatan kampanye yang dilakukan oleh LSM maupun organisasi mahasiswa dan institusi lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan melalui seminar, road show, dan kampanye-kampanye mengenai melek media. Misalnya, seperti yang dilakukan oleh Komunitas Mata Air tahun 2004 yang melakukan roadshow ke beberapa sekolah dasar di DKI Jakarta, Yayasan Jurnal Perempuan yang datang berseminar di beberapa SMA di DKI Jakarta pada tahun 2005 dan 2008, Komisi Penyiaran Indonesia tahun 2005 hingga saat ini, kemudian roadshow oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI ke beberapa SLTP di DKI dan Depok tahun 2005-2008, roadshow Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi tahun 2006, dan beberapa organisasi pemerhati media lainnya. Sesuai dengan sifatnya, gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara insidental dan kurang memiliki kesinambungan dengan program berikutnya. Dalam konteks ini, program tersebut tidak menjamin bahwa apa yang disampaikan dalam roadshow akan bisa berjalan dengan sendirinya.

Melalui kegiatan insidental seperti itu, agak sulit kiranya untuk dapat menyampaikan berbagai isu dan materi Pendidikan dalam seminar berdurasi dua jam, atau dalam kampanye dan roadshow ke berbagai sekolah selama seminggu. Ada kemungkinan, dari pihak penyelenggara sendiri kurang memahami betul konsep dan pengertian literasi media. Sehingga, dikhawatirkan pemahaman para siswa mengenai melek media ataupun pendidikan media menjadi tidak tepat.

Adalah Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) yang pada tahun 2002 memulai sebuah proyek percontohan penerapan ‘Pendidikan Melek Media’ dalam bentuk kegiatan belajar mengajar di kelas. Model ini diujicobakan pada Sekolah Dasar Negeri Johar Baru 01 Pagi, Jakarta Pusat. Sebelum melaksanakan model pertama ini, tim YKAI melakukan diskusi kelompok terfokus terhadap para guru, orangtua, dan siswa tentang tayangan televisi dan problemnya pada anak.

Hasil dari diskusi kelompok terfokus tersebut kemudian digunakan untuk merancang kurikulum pelatihan bagi para guru yang nantinya akan mengajarkan Pendidikan Melek Media kepada para siswa. Pelatihan guru diadakan selama tiga hari, termasuk kegiatan mendesain topik tatap muka di kelas dan metode evaluasinya.

Setelah semua persiapan selesai dilakukan, disebar kuesioner pre-test kepada siswa kelas lima yang akan terlibat dalam proyek percontohan ini. Selain itu, agar proses Pendidikan Melek Media di sekolah dapat berjalan seiring dengan pendidikan di rumah, diadakan seminar bagi orangtua murid tentang Pendidikan Media. Seminar tersebut bermaksud untuk menyampaikan pentingnya Pendidikan Media diajarkan di sekolah dan di rumah. Melalui hal tersebut diharapkan kerjasama dan dukungan orangtua.

Titik berat materi Pendidikan Media ditekankan pada media televisi mengingat media ini paling banyak diakses oleh anak-anak. Pokok bahasan yang diajarkan, sebagaimana tertulis dalam buku Pendidikan Media – Buku Pegangan Untuk Guru Sekolah Dasar (Guntarto, 2007: 12) adalah:

  1. Mengapa melek media penting?
  2. Jenis-jenis acara televisi
  3. Fungsi dan pengaruh iklan
  4. Karakteristik televisi
  5. Dampak menonton televisi
  6. Menonton TV dan kegiatan lain
  7. Memilih acara televisi yang baik
  8. Televisi sebagai sumber belajar

Setelah siswa mendapatkan pembelajaran mengenai melek media dengan fokus pada televisi yakni tentang bagaimana berinteraksi dengan televisi secara kritis, maka diharapkan para siswa (Guntarto, 2007: 12):

  1. dapat memahami dan mengapresiasi program yang ditonton
  2. menyeleksi jenis acara yang ditonton
  3. tidak mudah terkena dampak negatif acara televisi
  4. dapat mengambil manfaat dari acara yang ditonton.
  5. pembatasan jumlah jam menonton

Sesudah proyek percontohan selesai dilakukan, pada bulan Desember 2004 YKAI menyelenggarakan pelatihan guru tentang Pendidikan Melek Media dengan dukungan dari UNESCO untuk tingkat SD dan SMP. Peserta pelatihan berasal dari beberapa sekolah di Jakarta, Bogor, dan Yogyakarta. Pelatihan ini bekerjasama dengan Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Pelatihan serupa diadakan lagi pada tahun 2005 bertempat di sekolah Nurul Fikri dengan dukungan dari UNESCO.

Dua pelatihan Pendidikan Melek Media untuk guru yang diadakan oleh YKAI memiliki target bahwa sesudah mengikuti pelatihan ini, para guru diharapkan memiliki wawasan dan pemahaman mengenai Pendidikan Melek Media, dan dapat menyisipkannya dalam berbagai mata pelajaran. Penyelenggara pelatihan belum menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang siap pakai sebagai contoh penerapan Pendidikan Melek Media di kelas. Penyelenggara pelatihan juga tidak menyiapkan alat bantu mengajar yang dapat membantu guru mengajar topik ini di kelas.

Tahap berikutnya dilanjutkan oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) yang pada tahun 2006 dengan dukungan dari UNICEF menyempurnakan modul pelatihan guru tentang Pendidikan Melek Media dan mengujicobakannya dalam pelatihan guru pada bulan November 2006 di 8 sekolah di kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Dalam program tersebut, YPMA mengubah nama ’Pendidikan Melek Media’ menjadi ’Pendidikan Media’ yang dipandang lebih tepat karena merupakan terjemahan dari istilah asli dalam bahasa Inggris, Media Education.

Untuk menjajaki kemungkinan penerapan Pendidikan Media untuk diterapkan di sekolah, pada bulan November 2006 diadakan Round Table Discussion di UNICEF yang dipandu oleh communication officer dari UNICEF. Peserta diskusi di antaranya adalah perwakilan dari UNICEF, perwakilan dari UNESCO, Direktorat Pembinaan TK-SD Depdiknas, Pusat Kurikulum Depdiknas, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, beberapa guru dan kepala sekolah dasar di Jakarta, LSM bidang pornografi, LSM bidang hak anak, dan lain-lain.

Menurut wakil dari Direktorat Pembinaan TK dan SD Depdiknas, materi Pendidikan Media bisa diperkirakan akan sangat sulit masuk ke kurikulum. Sekalipun telah dilakukan penyusunan materi secara sistematis dan runtut, masih akan banyak pertanyaan yang muncul menyangkut pengertian, definisi, hasil ujicoba, dan sebagainya. Kalau diharapkan menjadi pelajaran tersendiri jelas akan sulit karena sudah ditentukan di Undang-undang. Namun ada salah satu kompetensi dasar tentang Teknologi Informatika yang ada di bagian pelajaran IPS yang barangkali dekat dengan Pendidikan Media. Tetapi mata pelajaran ini tidak berada di di setiap tingkat atau kelas. IT akan dimanfaatkan untuk semua mata pelajaran.

Ditambahkan, yang ingin memasukkan substansi ke dalam kurikulum SD sangat banyak. Misalnya, tentang Hak Asasi Manusia, lingkungan hidup, kesehatan, kepolisian, narkoba, transportasi, dan lain-lain. Kalau toh tetap ingin memasukkan isu Pendidikan Media ke dalam kurikulum, maka ratifikasi atau dukungan dari UNESCO itu penting sekali sebagai penguat. Manfaat dan alasannya harus dirumuskan dengan kuat dan perubahan apa yang terjadi pada anak setelah mendapatkan materi tersebut. Jadi meski tidak masuk kurikulum namun materiini diharapkan bisa muncul dalam mata pelajaran tertentu. Sebagai contoh, kesehatan itu penting, sementara anak malas untuk makan, mandi, dan gosok gigi. Tidak ada pelajaran tentang mandi dan kesehatan, namun tetap saja bisa dimasukkan ke dalam mata pelajaran.

Pada tahun 2005-2006, Yayu Rahayu dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada dan peneliti pada Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) mendapatkan dana Riset RUKK dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia meneliti tentang tingkat literasi media pada remaja SMA di Indonesia dengan mengambil sampel di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandar Lampung; kemudian pengembangan model Pendidikan Literasi Media; dan mestinya di tahun ketiga berupa pilot project penerapan model Pendidikan Literasi Media. Program ini hanya didanai hingga tahun kedua.

Tahun 2007, masih dengan dukungan dari UNICEF, selanjutnya YPMA mengembangkan stimulan atau alat bantu pengajaran untuk memudahkan para guru dalam memberikan materi Pendidikan Media kepada siswa dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan. Pengembangan itu juga mencakup pembuatan buku pegangan untuk guru dan siswa, serta pengembangan lembar kerja siswa.

Selain SDN Johar Baru 01 Pagi, ada satu sekolah lain yang telah menerapkan Pendidikan media menjadi satu mata pelajaran tersendiri, yaitu Sekolah Dasar Lentera Insan, Cimanggis, Depok. Pelajaran melek media di sekolah ini dilaksanakan dua minggu sekali, dalam satu jam pelajaran dengan durasi waktu 30 menit. Materi-materi yang disampaikan meliputi pengenalan akan berbagai media hingga bagaimana membangun daya kritis siswa dalam mengonsumsi media.

Menurut Hawana Syahra, seorang Kepala SD Negeri di Jakarta Pusat dalam percakapan dengan punulis pada tahun 2007, pada saat itu telah diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini menurutnya memberikan peluang bagi Pendidikan Media untuk dapat masuk ke dalam kurikulum, karena KTSP memiliki sub-komponen yang mendukung, yaitu mata pelajaran dan pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan Media dapat dijadikan satu mata pelajaran sendiri, karena struktur kurikulum tingkat sekolah dapat dikembangkan dengan cara memanfaatkan jam tambahan untuk menambah jam pembelajaran pada mata pelajaran tertentu atau menambah mata pelajaran baru. Untuk komponen pendidikan kecakapan diri, pendidikan media tidak usah dipisah menjadi mata pelajaran baru, tetapi isinya bisa diintegrasi ke dalam beberapa mata pelajaran yang pas.

Selain itu, pelaksanaan pendidikan media juga dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Hal ini sejalan dengan karakteristik KTSP yang memberikan keleluasaan bagi guru dan sekolah untuk mengembangkan satuan sendiri yang disesuaikan dengan keadaan siswa, keadaan sekolah, dan keadaan lingkungan. Sekolah bersama dengan komite sekolah dapat bersama-sama merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi lingkungan sekolah.

Dalam percakapan dengan penulis di tahun 2007, menurut Filia Dina (salah seorang penggagas Pendidikan Melek Media di SDN Johar Baru 01 Pagi, dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara yang waktu itu sedang mengambil kuliah pascasarjana Psikologi Pendidikan di Universitas Indonesia), idealnya Pendidikan Media menjadi satu subjek pelajaran tersendiri sekalipun tidak harus sepanjang semester. Pertimbangannya adalah agar transfer materi Pendidikan Media dapat lebih optimal dan guru dapat lebih mudah memantau dan mengevaluasi pemahaman serta perkembangan siswa dalam berinteraksi dengan media. Untuk jangka pendek ini pendidikan media dapat diintegrasikan ke dalam beberapa mata pelajaran yang ada seperti Bahasa Indonesia, Sejarah, IPS, Kewarganegaraan, dan lain-lain. Pendidikan media dapat diajarkan secara bertahap, sehingga dalam jangka panjang masyarakat semakin mengerti konsep melek media dan urgensinya.

Lebih lanjut menurut Filia Dina (2007) dalam konteks Pendidikan Media sebagai pendidikan kecakapan hidup, maka dalam penerapannya menjadi sangat praktis untuk dilakukan. Pendidikan Media memiliki nilai lebih, karena pendidikan ini menempatkan anak didik sebagai subjek. Hal tersebut membuat perkembangan emosi, pola pikir, karakter, serta perilaku anak didik lebih terkontrol, karena anak didik dibekali dengan kemampuan untuk memilih dan memaknai pesan media, sehingga anak didik bukan lagi sebagai imitator media. Hal tersebut menunjukan bahwa pendidikan media tidak hanya mencakup kemampuan kognitif, tetapi juga membangun daya analisis, membuat anak didik dapat menyikapi apa yang terjadi di luar dirinya.

Dari sisi urgensinya, pendidikan media memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan, mengingat perkembangan media yang begitu pesat tidak diikuti dengan kecakapan dalam mengkonsumsinya. Selain itu juga karena telah tersedianya sumber informasi mengenai pendidikan media ini. Sumber informasi tersebut dapat digunakan sebagai referensi untuk mengaplikasikan pendidikan media. Selain itu banyaknya LSM yang peduli terhadap melek media dapat menunjang sosialisasi mengenai melek media, sehingga semakin banyak pihak yang tahu mengenai melek media dan urgensinya.

Harus diakui tidak semua sekolah siap untuk melaksanakan pendidikan media, di antaranya disebabkan oleh kurang tersedianya sarana untuk melakukan pendidikan media (televisi, Internet, pesawast televisi dan dvd/vcd player). Memang Pendidikan media membutuhkan alat bantu, tetapi tidak harus menggunakan alat bantu yang mahal. Sekolah dapat menggunakan alat bantu yang murah, seperti gambar, poster, majalah, koran, dan alat bantu lainnya. Satu hal yang sangat penting untuk menjaga efektifitas pendidikan media, yakni kerjasama yang baik antara guru di sekolah yang mengajarkan materi ini, dan orangtua di rumah yang harus menjaga kondisi yang sesuai dengan yang diharapkan dari sekolah.

Tahun 2008, YPMA mulai melakukan pilot project Pendidikan Media dalam skala yang lebih luas. dengan dukungan dana dari UNICEF serta bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Jawa Tengah dan Dinas Pendidikan Jawa Timur. Ini adalah upaya untuk mengujicobakan materi dan metode penerapan Pendidikan Media melalui jalur sekolah dan masuk ke kurikulum, yang telah dirancang sebelumnya. Sebanyak tiga orang guru dari masing-masing sekolah yang sudah ditentukan, mendapatkan pelatihan Pendidikan Media selama tiga hari penuh, agar para guru tersebut kemudian dapat mengajarkannya kepada para siswa dengan cara mengintegrasikannya ke dalam mata pelajaran yang ada, maupun apabila memungkinkan menjadi pelajaran tersendiri. Ada 35 sekolah di empat wilayah yang terlibat dalam pilot project ini: di Kotamadya Solo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Bondowoso, dan Kotamadya Malang

Pelatihan tersebut mencakup pemahaman mengenai perkembangan anak dan kaitannya dengan pemahaman terhadap isi media; pengetahuan mengenai bagaimana media bekerja; aspek bisnis media; fungsi dan peran iklan; tentang realitas yang ditampilkan dalam media; bagaimana terjadinya dampak media pada anak; serta mempraktikkan bagaimana mengintegrasikan materi Pendidikan Media ke dalam kurikulum yang sudah ada; serta praktik mengajar.

Dalam berbagai pelatihan kepada para guru baik di tingkat SD maupun TK (PAUD), selalu ditemui bahwa pada umumnya para guru sangat antusias mengikuti pelatihan Pendidikan Media karena persoalan anak dan media – terutama televisi – sudah menjadi persoalan yang dihadapi oleh hampir semua orangtua dan guru. Melalui pembekalan literasi media ini diharapkan dapat menjawab permasalahan yang sedang dihadapi oleh para orangtua dan guru saat ini.Sehingga literasi media menjadi sesuatu yang mendesak untuk disosialisasikan kepada para guru dan orangtua, serta diajarkan kepada anak-anak.

Dari pengalaman penerapan pelajaran Pendidikan Media oleh YPMA di kelas, pada umumnya sangat menarik perhatian para siswa oleh karena banyak hal-hal yang dibahas di antaranya adalah tayangan kesukaan mereka. Anak-anak sangat aktif berpendapat dan dapat menceritakan dengan detil adegan-adegan yang ada dalam tayangan kesukaan mereka. Di sini peran guru menjadi sangat penting sebagai fasilitator yang baik. Sedikit banyak, guru juga perlu tau isi tayangan tersebut agar diskusi di kelas dapat berjalan dengan hangat dan siswa tidak merasa diharuskan untuk percaya begitu saja apa yang disampaikan oleh guru. Karakter dari tokoh yang ada dalam film tertentu baik dan buruk, benar dan salah, dapat disampaikan dengan cara yang bisa diterima oleh siswa.

Beberapa lembaga seperti Yayasan Jurnal Perempuan, Yayasan Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi, mengadakan bentuk lain program literasi media berupa intervensi langsung kepada siswa melalui sekolah. Program ini biasanya ditempuh untuk mendapatkan efek yang segera. Program ini relatif praktis dan tidak memerlukan persiapan yang panjang, serta tidak terlalu mahal. Narasumber ahli yang terbiasa berinteraksi dengan anak dapat mengajak anak-anak untuk memahami bahwa apa yang disajikan oleh media tidak pernah lepas dari unsur komersial, bahwa apa yang disajikan media tidak selalu merupakan hal yang patut untuk ditiru karena media kadang juga menyajikan hiburan yang tidak aman untuk anak-anak.

Untuk kelompok yang tidak sangat banyak, narasumber ahli dapat langsung berinteraksi dengan anak-anak dan tidak melalui pihak ketiga seperti guru dan orangtua, yang kadang kurang pas dalam menyampaikan materi dengan gaya yang menarik. Efeknya pun bisa diharapkan terjadi dalam waktu singkat.

Namun kelemahan dari intervensi langsung ke anak adalah dalam hal replikasinya. Untuk menjangkau jumlah yang banyak, harus dibentuk banyak tim pelaksana yang harus bekerja terus-menerus karena banyaknya jumlah anak yang harus ditangani. Program seperti ini memerlukan waktu dan stamina yang panjang, di samping konsekuensinya ke biaya pelaksanaan. Sebagai jalan tengah, dapat dilakukan semacam training kepada para mahasiswa dan kemudian merekalah yang menjangkau anak-anak. Dalam konteks ini, maka hubungan antara adik dan kakak (mahasiswa) dapat menjadi nilai lebih yang menguntungkan karena kedekatan jarak psikologisnya.

Program literasi media dalam bentuk penjangkauan langsung kepada orangtua seperti yang dilakukan oleh Masyarakat Peduli Media di Yogyakarta, juga merupakan upaya yang efeknya lebih dapat diharapkan segera. Dalam format ini, diperlukan narasumber yang memahami permasalahan dengan baik karena harus mampu meyakinkan orangtua bahwa media dapat menimbulkan permasalahan dan dampak yang serius pada anak-anak, bila tidak dilakukan pengaturan. Kalau orangtua belum menyadari hal itu, akan sulit untuk mengajak mereka untuk melakukan pengawasan dan pengaturan pada anak-anak mereka dalam menggunakan media.

Pemberian contoh kasus yang nyata mengenai dampak media dalam bentuk peniruan yang mengakibatkan meninggalnya anak-anak, sangat penting dijelaskan. Misalnya kasus Smackdown yang mengakibatkan tiga anak meninggal, anak yang terjerat ikat kepala Naruto di Semarang hingga meninggal, peniruan adegan sulap Limbad di Jakarta yang menewaskan seorang pelajar SMP, dan sebagainya. Perlu dipahami bahwa orangtua kadang merupakan pihak yang paling sulit untuk diatur dalam menonton TV, dan ini kemudian ditiru oleh anak-anaknya.

Perkembangan Yang Lambat

Tidak adanya forum yang membahas masalah literasi media, barangkali menjadi penyebab mengapa pemahaman terhadap konsep menjadi sangat beragam, dan hal itu kemudian tercermin dalam program / kegiatan yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga. Hal lain yang cukup menarik adalah absennya perguruan tinggi dalam mengembangkan isu ini. Program studi Ilmu Komunikasi tentunya memiliki relevansi yang tinggi untuk masalah literasi media ini. Ini tidak untuk mengatakan bahwa tanpa keterlibatan perguruan tinggi, literasi media menjadi tidak berkembang.

Namun dalam pengamatan penulis, akibat dari hal-hal di atas adalah perkembangan literasi media yang sangat lambat baik dalam pemahaman konsep maupun ragam kegiatan. Periode sebelum tahun 2000 mungkin bisa disebut dengan periode proteksi pada anak dari dampak negatif media; periode yang memandang media lebih sebagai institusi yang menimbulkan dampak negatif. Kegiatan yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga merupakan kegiatan sangat praktis dan reaktif, dan jauh dari konsep literasi media yang baku dan komprehensif. Menjadi pertanyaan juga apakah berbagai lembaga yang memiliki program dan kegiatan tersebut memahami konsep literasi media atau tidak.

Sekali pun Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia sudah mulai memiliki wawasan yang lebih mengacu pada konsep baku literasi media, namun hal ini tidak berkembang dan terjadi pada lembaga lain. Pada tingkat ini pun YKAI masih sebatas wacana dan program kecil-kecilan dalam bentuk pemberdayaan orangtua dan guru, hanya saja sudah dengan pemahaman terhadap konsep tersebut. Akan berbeda halnya sebuah lembaga yang mengadakan program literasi media dengan memiliki pemahaman yang utuh dengan lembaga lain yang mengadakan program serupa namun tidak memiliki pemahaman yang utuh.

Sulitnya mendapatkan funding untuk kegiatan literasi media yang lebih besar dan lebih serius serta berkesinambungan, barangkali juga bisa menjadi penyebab utamanya. Mengandalkan pendanaan sendiri rasanya belum dapat dilakukan oleh banyak lembaga di Indonesia. Pada masa itu, baik UNICEF maupun UNESCO belum tertarik untuk mendanai kegiatan pelatihan guru dan penerapan Pendidikan Media melalui jalur kurikulum sekolah.

Periode 2000 barangkali bisa disebut dengan periode yang lebih mengakui bahwa media juga memiliki fungsi sebagai sumber informasi dan sumber belajar. Sebenarnya pemahaman mengenai fungsi media sebagai sumber informasi dan sumber belajar sudah ada sejak media itu eksis. Perhatian para aktivis pada periode sebelumnya yang lebih fokus pada isi media yang harus diwaspadai karena dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan psikologis anak adalah pada kenyataan bahwa isi media memang dominan dengan hiburan dalam kemasan yang sangat komersial. Pandangan ini tidaklah salah karena berangkat dari sudut pandang perkembangan anak.

Salah satu hal yang mendorong mengapa isu peran media sebagai sumber informasi dan sumber belajar diangkat adalah adanya respon dari kalangan media yang merasa selalu dipojokkan dan dianggap sebagai penyebab timbulnya masalah berupa dampak negatif televisi terhadap anak. Sementara, sedikit banyak ada tayangan dalam media yang memang memiliki fungsi sebagai sumber informasi dan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk siswa sekolah dasar.

Hal itu kemudian diakomodir oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia yang pada tahun 2002 melakukan ujicoba yang pertama penerapan Pendidikan Media melalui jalur kurikulum sekolah, yang juga memasukkan pokok bahasan mengenai ‘Media Sebagai Sumber Belajar’. Pada masa selanjutnya, YKAI mendapat dukungan dari UNESCO dan Kantor Pemberdayaan Perempuan untuk mengadakan pelatihan guru.

Pada masa yang sama, program literasi media dengan bentuk dan format yang sama dengan periode sebelumnya, tetap saja bermunculan. Penguatan orangtua dan guru, intervensi langsung kepada siswa, dan peningkatan sikap kritis khalayak pers dalam fungsi sebagai pengawas media tetap banyak dijalankan. Sekali lagi hal ini bisa jadi disebabkan karena tidak adanya komunikasi antar lembaga yang mengaku program kegiatannya adalah literasi media.

Lembaga lain yang secara substansial terus menerus mengembangkan program literasi media ini adalah Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), yang sejak tahun 2006 hingga 2010 mendapat dukungan penuh dari UNICEF. Pada periode ini, telah didapatkan format pelaksanaan Pendidikan Literasi Media melalui jalur kurikulum sekolah dasar dan pendidikan anak usia dini yang jelas, yang dilengkapi dengan alat bantu mengajar dan dukungan teknis lainnya. Saat ini, sebenarnya adalah kesempatan untuk menyosialisasikan Pendidikan Literasi Media ke berbagai pihak dan menerapkan pendidikan tersebut di tingkat usia dini maupun sekolah dasar.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Mengingat istilah literasi media sudah menjadi istilah yang populer, maka perlu ada upaya untuk membuat rumusan yang lebih jelas dan diterima berbagai pihak agar istilah ini tidak disalah-artikan sehingga mengurangi makna yang sebenarnya. Permasalahan dalam memahami istilah ini tentu akan membawa konsekuensi pada program kegiatan yang diadakan dengan label ‘literasi media’ yang tidak tepat.

Sudah saatnya berbagai instansi pemerintah seperti Kementrian Pendidikan Nasional, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementrian Agama, Kementrian Sosial, BKKBN, Komisi Perlindungan Anak, Komisi Penyiaran Indonesia, melakukan langkah nyata bagi perlindungan anak dari dampak media, mengoptimalkan media sebagai salah satu sumber belajar, dan mengurangi jumlah waktu yang digunakan untuk mengkonsumsi media dengan menggantinya dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

Instansi pemerintah tersebut perlu bahu-membahu bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya, badan PBB (UNICEF, UNESCO, dll) untuk menerapkan Pendidikan Literasi Media baik berbasis kurikulum sekolah maupun bentuk lain secara berkesinambungan. Prioritas program ini sebaiknya pada tingkat usia dini dan sekolah dasar, karena pasa masa itulah kebiasaan bermedia seseorang dibentuk yang akan melekat hingga dewasa.

Dengan dimilikinya kemampuan literasi media pada anak, maka dalam tumbuh kembangnya hingga dewasa, anak akan memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam menghadapi media sehingga relatif akan lebih terlindungi dari dampak negatif media. Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang hidup dari media akan dapat dijalaninya dengan baik. Anak yang media literate juga akan mampu menyusun isi pesan media dengan dasar pemahaman terhadap karakteristik masing-masing media yang cukup kuat.

Di tingkat praktis, sekolah-sekolah swasta yang lebih memiliki keleluasaan dalam memodifikasi proses pembelajaran, diharapkan juga lebih memiliki inisiatif dalam merespon perkembangan media yang sangat pesat dalam kaitan dengan akses anak-anak terhadap media tersebut, setidaknya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diinginkan.

Selain itu, masyarakat pun hendaknya mulai membangun self sensor awareness, terhadap tayangan televisi dan media lainnya. Persoalan ini tidak dapat hanya dibebankan pada pundak orangtua dan guru saja, namun harus menjadi tanggungjawab bersama antara seluruh warga masyarakat, industri media, regulator, dan pemerintah.

Selain itu, perlu diadakan forum di tingkat nasional yang secara reguler mempertemukan berbagai ide, pemikiran, program, dan kegiatan yang terkait dengan literasi media agar setidaknya di antara para pelaku dan praktisi literasi media mengetahui apa yang dilakukan oleh pihak lain dan diharapkan ada proses saling belajar untuk meningkatkan kualitas program ini.

Referensi

Buku

Adiputra, Wisnu Martha. 2006. Menyoal Komunikasi, Memberdayakan Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit FISIPOL UGM.

Aufderheide, P., ed. 1993. Media Literacy. A report of the national leadership conference on media literacy. Aspen, CO: Aspen Institute.

Baran, Stanley J. dan Davis, Dennis K. 2009. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future. 5th edition, USA: Wadsworth/ Thomson Learning.

Brunner, Cornelia, and Tally, William. 1999. The New Media Literacy Handbook. New York: Anchor Books.

Buckingham, D. 2003. Media Education, Literacy, Learning and Contemporary Culture. Cambridge: Polity Press.

Craggs, Carol E. 1992. Media Education in the Primary School. London: Routledge.

Dina, Filia. 2002. Pembelajaran Melek Media Pada Siswa Sekolah Dasar – Pendekatan Teori Belajar Humanistik. Medan: Program Studi Psikologi Fak. Kedokteran USU.

Fleming, D. 1993. Media Teaching. Cambridge: Blackwell.

Gauntlett, David J. 1995. Moving Experience: Understanding Television Influences and Effects. London: Joh Libbey.

Guntarto, B. 2007. Pendidikan Media – Buku Pegangan Untuk Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Yayasan Pengembangan Media Anak dan UNICEF.

Iriantara, Yosal. 2009. Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Kaiser Family Foundation. 2006. The Media Family: Electronic Media in the Lives of Infants, Toddlers, Preschoolers and Their Parents. California: Kaiser Family Foundation.

Masterman, Len. A Rationale for Media Education, dalam R. Kubey, ed. 2001. Media Literacy in The Information Ages: Current Perspectives. New Brunswick, New Jersey: Transaction, hal 51.

Potter, James W. 2001. Media Literacy: A Compelling Component of School Return and Restructuring, New Brunswick: Transaction Publisher.

Potter, James W. 2008. Media Literacy 4th ed. Thousand Oaks: Sage Publications.

Silalahi, Rut et.al. 2007. Lomba Karya Tulis Mahasiswa, Jakarta: Fisip Universitas Indonesia.

Steyer, James P. 2002. The Other Parent. New York: Atria Books.

Tyner, Kathleen. 1998. Literacy in a Digital World: Teaching and Learning in the Age of Information. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

Tyner, Kathleen. 2010. Media Literacy: New Agendas in Communication. New York: Routledge.

Yayasan Pengembangan Media Anak. 2008. Booklet Pendidikan Media. Jakarta: Yayasan Pengembangan Media Anak dan UNICEF.

Yayasan Pengembangan Media Anak. 2010. Media Dalam Kehidupan Anak – Lembar Fakta 2006 – 2010. Jakarta: YPMA.

Jurnal

Brown, J. A. 1998. Media literacy perspectives. Dalam The Journal of Communication 48 (1):44-57.

Buckingham, D. 1995. Media education and the media industries: Bridging the gaps? Dalam Journal of Educational Television, 21 (1):7.

Buckingham, D. 1998. Media education in the UK: moving beyond protectionism. Dalam The Journal of Communication, 48 (1):33-43.

Buckingham, D. 2007. Media education goes digital: an introduction. Dalam Learning, Media and Technology, 32 (2):111-119.

Considine, D. M. 2002. Media literacy: National developments and international origins. Dalam Journal of Popular Film & Television, 30 (1):7.

Dennis, E. E. 2004. Out of sight and out of mind: The media literacy needs of grown-ups. Dalam American Behavioral Scientist, 48 (2):202-211.

Guntarto, B. 2001. Internet and the New Media: Challenges for Indonesian Children. Dalam Media Asia, 28 (4):195-203.

Hobbs, R. 1998. The seven great debates in the media literacy movement. Journal of Communication 48 (1):16-32.

Hobbs, R. 2004. A review of school-based initiatives in media literacy education. American Behavioral Scientist 48 (1):42-59.

Hobbs, R. 2005. The state of media literacy education. Journal of Communication 55 (4):865-871.

Kubey, R. 1998. Obstacles to the development of media education in the United States. The Journal of Communication 48 (1):58-69.

Kubey, R. 2003. Why U.S. media education lags behind the rest of the English-speaking world. Television New Media 4 (4):351-370.

Kubey, R. 2004. Media literacy and the teaching of civics and social studies at the dawn of the 21st century. American Behavioral Scientist 48 (1):69-77.

Livingstone, S. 2004. Media literacy and the challenge of new information and communication technologies. The Communication Review 7 (1):3 – 14.

Livingstone, S. 2008. Engaging with media – a matter of literacy? Communication, Culture & Critique 1 (1):51-62.

Marten, Hans. 2010. Evaluating Media Literacy Education: Concepts, Theories and Future Directions. Journal of Media Literacy Education Vol 2(1), 1-22.

Shepherd, Rick. 1992. Elementary Media Education: The Perfect Curriculum, Reprinted with permission from English Quarterly, vol. 25, nos.2-3. Canadian Council of Teachers of English and Language Arts. Toronto, Ontario.

Artikel dan Laporan

Rahayu, Yayu. 2006. Rangkuman Hasil Riste Tahun Pertama – Pemetaan Tingkat Literasi Media di Kalangan Remaja. Tidak diterbitkan.

Guntarto, B. 2006. Pendidikan Media di Sekolah Dasar, Hasil Round Table Dicussion, Jakarta: Yayasan Pengembangan Media Anak.

Guntarto, B. 2010. Program Literasi Media Berbasis Sekolah.

Guntarto, B. 2009. Media Pembunuh Masa Kanak-kanak.

Internet

Budi Imansyah S, “Sosialisasi Pendidikan Media”, http://www.yourcompany.com, akses pada 10 Mei 2007.

Marsel Ruben payong, ”Media Literacy, Agenda Pendidikan yang Terlupakan”, http://www.kompas.com, 18 Oktober 2004, akses pada tanggal 10 Mei 2007.

Mulyana, Slamet. 2008. ”Perkembangan Media Massa dan Media Literasi di Indonesia”. http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/22/perkembangan-media-massa-dan-media-literasi/ Akses pada 5/9/2010 1:13 PM

Santi Indra Astuti, “Membangun Masyarakat Melek Media”, http://www.pikiran-rakyat.com. 30 Juni 2004, akses pada tanggal 10 Mei 2007.

The Habibie Center. http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/lokakarya-literasi-media-oleh-habibie-center. Akses tanggal 11 Juli 2010.

Yayasan Pengembangan Media Anak. http://www.kidia.org. Akses tanggal 11 Juli 2010.

Lampiran:

  1. Kegiatan YKAI Yang Terkait dengan Pendidikan Literasi Media, 1991-2009.

 

Thn. Aktivitas Tujuan Target Program
1991 “Seminar on Childen and Television in the Asia Pacific Region”
Funding: ICC Prancis, dan AMIC Singapore
  • Mengembangkan keragaman budaya melalui tayangan TV untuk anak;
  • Mendorong diadakannya “Pendidikan Media” yang fokus pada media televisi;
  • Mengidentifikasi peluang dan tantangan dalam mengembangkan strategi peningkatan kualitas tayangan TV anak
Menyusun rekomendasi yang dapat menjadi referensi bagi negara-negara di kawasan Asia Pacific.
1994 Penelitian “Adegan Pro-sosial dan Antisosial dalam Film Cerita Untuk Anak di Televisi” Mengidentifikasi bentuk dan jenis muatan pro-sosial dan antisosial dalam film kartun di televisi. Advokasi mengenai kualitas tayangan TV untuk anak
1994
  1. Lokakarya Pendidikan Media Televisi Untuk Anak-anak
  2. Seminar “Bagaimana Menonton Televisi yang Pas”
    • Mengembangkan materi pengajaran Pdd Media sebagai pegangan para guru
    • Memberikan tools dan tips pada orangtua
Pelatihan Pdd Media untuk guru

Pemberdayaan orangtua dalam menjembatani interaksi anak dengan TV

1996 Penelitian tentang “Tayangan Anak di Televisi” Funding: AMIC Mengidentifikasi kualitas dan kuantitas tayangan anak di TV di Indonesia Pemetaan masalah tayangan anak di televisi
1999 Penelitian tentang “Anak di Media”. Funding: AMIC Mendeskripsikan bagaimana anak ditampilkan di media Mengkaji penerapan kode etik dan hak anak
2001 Penelitian tentang “Anak dan Internet”. Funding: AMIC Melaporkan bagaimana anak berinteraksi dengan internet di Indonesia Pemahaman masalah anak dan internet
2002
  1. Penelitian tentang “Pola Menonton TV Pada Anak”
  2. Penelitian tentang “Minat Baca Pada Anak”
  3. Pilot Project “Pembelajaran Melek Media” di SDN Johar Baru 01 Pagi
  4. Semiloka TV Forum.
    Funding: UNICEF
Pilot project Pembelajaran Melek Media bertujuan untuk mengujicobakan modul pelatihan guru, materi pengajaran di kelas dan alat bantu mengajar.

Ini merupakan implementasi Pendidikan Media yang pertama di Indonesia.

Membekali anak dengan pengetahuan dan kemampuan dalam berinteraksi dengan media terutama televisi.
2003 Workshop Pengembangan Standar Tayangan Anak dan Remaja. Funding: UNICEF, Komisi Penyiaran Indonesia. Melengkapi draf regulasi tentang isi tayangan televisi untuk anak dan remaja Terakomodirnya aspek perlindungan anak dalam regulasi mengenai televisi di Indoensia
2004 Pelatihan Pembelajaran Melek Media untuk guru Sekolah Dasar Pengembangan Literasi Media berbasis sekolah Mendapatkan lesson learned yang baik
2005
  1. Pelatihan Pembelajaran Melek Media untuk guru Sekolah Dasar
  2. Penelitian Analisa Isi Sinteron Remaja, kerjasama dengan IISIP Jakarta
  • Ujicoba materi Literasi Media melalui pelatihan guru
  • Untuk mendapatkan gambaran mengenai isi sinetron remaja di televisi
Modul pelatihan guru tentang Pendidikan Media

Data hasil penelitian dapat digunakan untuk advokasi

2006 Mengikuti Roadshow “TV Sehat” di Jakarta-Bandung bersama YPMA dan Komunitas TV Sehat.
Funding: UNICEF
Melalui kampanye, ingin diperkenalkan dua aturan dasar dalam menonton TV, yakni menonton TV tidak lebih dari 2 jam sehari; dan memilih tayangan yang sesuai. Lebih kurang 1.600 siswa dari 4 sekolah terlibat kegiatan roadshow.
2007 Pelatihan tentang Literasi Informasi untuk Guru SD
Funding: UNESCO
Memberi wawasan tentang Literasi Informasi kepada para guru 25 Guru di Jabodetabek memperoleh pelatihan Literasi Informasi
2009 Pelatihan Literasi Informasi Untuk Guru, Orangtua,d an Siswa
Funding: UNESCO
Memberi wawasan tentang Literasi Informasi kepada para guru, orangtua, dan siswa 75 Guru, Orangtua, dan siswa medapat pelatihan Literasi Informasi

 


  1. Kegiatan YPMA Yang Terkait dengan Pendidikan Literasi Media, 2006-2010.

 

Tahun Aktivitas Tujuan Target Program
2006
  1. Roadshow “TV Sehat” di Jakarta-Bandung
  2. Membuat spanduk, poster (2 jenis), pin, sticker untuk sekolah dan anak-anak
  3. Melaksanakan HARI TANPA TV untuk pertama kalinya
  4. Mendistribusikan Panduan Kidia untuk guru dan orangtua
  5. Melalui kampanye, ingin diperkenalkan dua aturan dasar dalam menonton TV, yakni menonton TV tidak lebih dari 2 jam sehari; dan memilih tayangan yang sesuai.
  6. Sedangkan kampanye HARI TANPA TV bertujuan untuk mengurangi ketergantungan anak pada TV; mengingatkan orangtua agar mengatur anak dalam menonton TV; dan sebagai public pressure bagi lembaga penyiaran.
Lebih kurang 1.600 siswa dari 4 sekolah terlibat kegiatan roadshow.

Aktivitas nomer 1, 2 dan 4 didanai oleh UNICEF.

HARI TANPA TV diadakan secara nasional.

2007
  1. Workshop penyusunan modul pelatihan Pendidikan Media untuk guru sekolah dasar
  2. Uji coba modul di 7 sekolah dasar negeri di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur
  3. Pendistribusian Panduan Kidia untuk guru dan orangtua
  4. Pelaksanaan HARI TANPA TV yang kedua.
  • Memproduksi modul Pendidikan Media
  • Melakukan uji coba terbatas di sekolah negeri
  • Menghimpun masukan dan proses pembelajaran dari lapangan
Workshop melibatkan 8 orang ahli, dan pelatihan guru melibatkan 24 guru sekolah dasar serta dalam kegiatan belajar mengajar melibatkan lebih kurang 960 siswa dari 8 sekolah.

HARI TANPA TV diadakan secara nasional.

2008
  1. Pengembangan modul Pendidikan Media untuk sekolah dasar
  2. Uji coba penerapan modul di 35 sekolah dasar di 4 kabupaten / kotamadya di Jawa Tengah dan Jawa Timur
  3. Penyebarlusan Panduan Kidia untuk guru dan orangtua (6 edisi)
  4. Pembuatan 2 jenis Poster Pendidikan Media
  5. Pelaksanaan HARI TANPA TV yang ke-3
  • Mengembangkan modul pelatihan Pendidikan Media sebagai hasil ujicoba pada periode sebelumnya
  • Ujicoba dilakukan dengan mengukur dampak dari proses pembelajaran Pendidikan Media pada siswa.
Melibatkan 35 sekolah, 140 guru, dan sekitar 6.000 siswa.

HARI TANPA TV diadakan secara nasional.

2009
  1. Dukungan teknis bagi 35 sekolah yang terlibat dalam pilot project
  2. Penyebaran Panduan Kidia untuk guru dan orangtua (6 edisi)
  3. Pembuatan 2 jenis Poster Pendidikan Media
  4. Penyelenggaraan HARI TANPA TV yang ke-4
  5. Assessment pentingnya Pendidikan Media pada tingkat PAUD
  • Untuk mendukung agar para guru tetap mengajarkan Pendidikan Media di sekolah masing-masing.
  • Juga diadakan workshop penyegaran materi Pendidikan Media di masing-masing wilayah
  • Assessment dilakukan untuk mendapatkan pandangan dan saran dari para ahli tentang rencana penerapan Pendidikan Media di tingkat PAUD
Melibatkan 35 sekolah, 140 guru, dan sekitar 6.000 siswa.

HARI TANPA TV diadakan secara nasional.

2010
  1. Pengembangan modul dan proyek percontohan pengajaran Pendidikan Media di tingkat usia dini di Yogya dan Jawa Tengah
  2. Dukungan teknis untuk 12 PAUD di Yogyakarta, Klaten, dan Wonosobo
  3. Penyelenggaraan HARI TANPA TV yang ke-5.
  • Modul untuk tingkat SD yang sudah ada dimodifikasi dan diujicobakan dalam skala kecil
  • Intervensi pada anak usia dini diperlukan agar dapat terbentuk pola mengkonsumsi TV dan media yang baik pada anak.
Melibatkan 38 orang guru PAUD dari 12 sekolah di 3 wilayah. Mitra utama program ini adalah PP. Aisyiyah Pusat di Yogyakarta.

HARI TANPA TV diadakan secara nasional.

Inisiatif Awal Pengembangan Indikator Tingkat Literasi Media Baru

Oleh B. Guntarto

Hasil penelitian tentang Internet Dalam Kehidupan Remaja oleh YPMA tahun 2011 pada 250 siswa SMP-SMA di Kotamadya Depok Jawa Barat menunjukkan bahwa hampir 60% siswa mengenal internet sejak mereka kelas 4-6 SD. Situs favorit mereka adalah facebook, twitter, Youtube, dan online games. Hampir semua responden merasakan manfaat positif dan dampak negatif Internet. Dampak negatinya, misalnya berupa gangguan konsentrasi belajar, telat makan, mengantuk karena tidur tidak teratur, dan siswa yang aktif di media sosial dan game online mengaku hal tersebut mengganggu pada hubungan dengan keluarga dan teman.

 Antara peluang dan risiko berinternet pada remaja harus digali lebih jauh. Literasi media baru yang mulai mendapat perhatian besar dari penggiat literasi media di Indonesia, harus dilengkapi dengan indikator yang dapat menunjukkan tingkat literasi seseorang. Indikator ini sangat penting untuk memastikan rancangan bentuk program intervensi yang akan dilakukan.

Makalah ini mengajukan pemikiran awal mengenai serangkaian unsur pokok yang membangun indikator tingkat literasi media baru, seperti persoalan etika yang terdiri atas identitas, privasi, kredibilitas, authorship dan kepemilikan, serta partisipasi. Di samping itu, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh remaja berkaitan dengan akses media, analisis, evaluasi, dan produksi pesan, adalah indikator yang sangat penting untuk diketahui.

Kata kunci: literasi media baru, tingkat literasi media baru, indikator literasi media baru.

Latar belakang

Literasi media baru, pada dasarnya adalah pengembangan dari model literasi media konvensional. Hadirnya unsur partisipasi, interaktivitas, kreasi konten media yang membuat seseorang tidak sekedar pengguna media tapi sekaligus juga pemroduksi konten media, tentu saja akan membuat pengertian dan batasan mengenai literasi media baru menjadi berkembang jauh.

Manfaat dari indikator literasi media baru dapat dilihat dalam beberapa tingkatn. Pada tingkat praktis, informasi mengenai tingkat literasi media dapat menjadi informasi awal mengenai tingkat literasi media seseorang atau sekelompok orang merupakan hal penting bagi dasar dalam penyusunan program intervensi literasi media. Logikanya, setiap kegiatan literasi media harus diawali dengan data mengenai tingkat literasi media kelompok yang akan menjadi sasaran program. Pemahaman yang cukup mendalam mengenai kondisi target program, akan menentukan bentuk intervensi, kurikulum, metode penyampaian, kebutuhan alat peraga, dsb.

Sebagai sebuah bidang baru yang secara formal belum dapat diakomodir dalam kurikulum sekolah, maka peran sekolah dapat dikatakan tidak ada berkaitan dengan tinggi dan rendahnya tingkat literasi media baru seseorang.

Pada tingkat nasional, data tersebut juga dapat menjadi indikator bagi pelaksanaan sebuah kebijakan, atau memberi petunjuk perlunya sebuah kebijakan yang lain.

Secara logis, dapat diasumsikan bahwa tingkat literasi media baru yang tinggi akan berkorelasi dengan rendahnya kemungkinan dampak negatif media baru. Hal ini dapat dipahami dengan logika bahwa pemahaman yang tinggi tentang unsur-unsur dalam literasi media baru akan membuat seseorang lebih kritis, lebih dapat mengantisipasi dan menghindari permasalahan yang muncul, dibanding dengan mereka yang tidak memiliki tingkat literasi media baru yang tinggi.

Struktur penulisan dalam makalah ini terdiri atas bagian pendahuluan, gambaran mengenai remaja dalam era digital, pengertian tentang media baru dan literasi media baru, pengembangan indikator tingkat literasi media baru, dan diakhiri dengan bagian penutup.

Gambaran Remaja Digital

Pada awal Maret 2011, YPMA melakukan penelitian kecil mengenai “Internet Dalam Kehidupan Remaja”. Penelitian tersebut dilakukan untuk mendapatkan data dasar mengenai bagaimana sesungguhnya pola penggunaan Internet pada remaja SMP dan SMA. Data dasar digunakan sebagai bahan penyusunan makalah dalam seminar dengan para guru dalam acara Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat.

Paparan berikut sumber aslinya adalah makalah berjudul “Memahami Interaksi Remaja Dengan Internet” tahun 2011 yang disusun oleh Guntarto, Amelia Virginia, Hendriyani, Mefitia Puspasari, dan M. Topan Nixon.

Dari hasil kuesioner yang disebarkan ke beberapa sekolah menengah pertama dan atas di Depok Jawa Barat pada awal Maret 2011, didapatkan hasil bahwa para siswa yang merupakan digital natives di kota Depok mulai mengenal Internet sejak mereka berada di Sekolah Dasar terutama di kelas 4 sampai kelas 6. Orangtua, keluarga (kakak, om, tante, dan saudara sepupu), serta guru berperan dalam mengenalkan Internet kepada mereka. Namun, ada juga di antara mereka yang belajar sendiri. Mereka mencari informasi mengenal Internet di media cetak baik majalah ataupun buku dan kemudian mempraktekkannya sendiri.

Untuk berselancar di dunia maya, para digital natives itu menggunakan perangkat seperti personal computer (PC), laptop, handphone, atau BlackBerry. Namun, dalam hasil pengolahan data survei diperoleh hasil bahwa mayoritas digital natives mengkases Internet menggunakan personal komputer.

Karena sebagain besar siswa yang menjadi responden memiliki akses Internet di rumahnya, maka mereka menggunakan PC dan laptop di rumah masing-masing. Jumlah siswa yang pergi ke warnet jauh lebih sedikit.

Sebagian besar dari responden mengakses Internet pada saat pulang sekolah. Biasanya, mereka menyempatkan diri menghabiskan waktu 1,5 – 3 jam untuk mengakses Internet sepulang dari sekolah dan pada malam hari. Namun, ada juga yang mengakses Internet pada saat jam sekolah melalui handphone atau BlackBerry. Agaknya, tidak ada larangan untuk menggunakan handphone di sekolah. Website yang mereka akses adalah google.com. Melalui website ini, mereka pun memanfaatkan fitur translasi dan pencarian untuk mengerjakan tugas sekolah.

Situs yang sering diakses oleh para digital natives adalah Facebook, Twitter, Youtube, Google, dan situs-situ games online. Namun, yang menjadi favorit mereka adalah Twitter. Melalui situs jejaring sosial ini para digital natives mengaku sering melakukan aktivitas seperti: update status (tweeting), re-tweet, mention, direct message, dan follow.

Situs kedua yang menjadi favorit para digital natives ini adalah Facebook. Aktivitas yang sering mereka lakukan di situs jejaring sosial ini antara lain memantau newsfeed, berkomunikasi melalui fitur wall to wall atau comment, mengunggah foto dan melakukan photo tagging, bermain game, dan mengisi permainan dalam bentuk kuis seperti ‘interview friend’.

Dalam menggunakan Facebook, ternyata banyak di antara mereka yang tidak tahu batas umur penggunanya. Sebagian besar di antara mereka mengira bahwa batas umur termuda untuk memiliki akun Facebook adalah 17 tahun. Padahal, dalam peraturan penggunaan (Statement of Rights and Responsibilities) Facebook disebutkan usia minimum tersebut adalah 13 tahun. Bisa dipastikan, banyak di antara mereka yang memiliki akun Facebook jauh sebelum batas usia minimum tersebut.

Masih berkaitan dengan penggunaan Facebook, 50% responden mengatakan bahwa mereka mengaktifkan fitur pengaturan privasi (seperti: siapa yang dapat melihat status, foto, dan data pribadi). Mereka yang mengaktifkan fitur pengaturan privasi ini mengatakan bahwa banyak sekali kejahatan yang terjadi akibat Facebook. Bagi mereka, pengaturan privasi ini memberikan kontrol atas informasi/data diri yang penting.

Sementara itu, mereka yang tidak mengaktifkan fitur pengaturan privasi mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tentang adanya fitur tersebut atau tidak dapat melakukan pengaturan fitur tersebut (gagap teknologi). Namun, ada di antara mereka yang menyebutkan bahwa mereka tidak memberikan data pribadi di dalam Facebook sehingga tidak harus mengaktifkan fitur pengaturan privasi.

Selain mengakses kedua situs tersebut, para siswa digital natives tersebut juga gemar mencari video klip yang ada di situs Youtube. Jenis video klip yang dicari biasanya tergantung dengan jenis musik favorit mereka. Dari data kuesioner, pencarian video di Youtube bisa sangat variatif, mulai dari boyband seperti Sm*sh hingga marawis.

Sama halnya dengan aktivitas mengunduh melalui Youtube, para digital natives juga sering melakukan aktivitas mengunduh melalui situs 4shared.com. Situs ini digunakan oleh anak-anak untuk mengunduh musik yang mereka sukai. Situs berbagi file (4shared.com, mediafire.com, indowebster.com dan lain-lain) merupakan penyedia penyimpanan berkas dalam jaringan. Berkas yang bisa diunggah melalui media ini adalah musik, film, video, dokumen, gambar, foto, dan sebagainya.

Meskipun ada aturan jika muatan file yang di-share adalah file dengan konten untuk orang dewasa, maka pengunggah haruslah memberi password, namun tidak jarang password tersebut dapat tersebar atau justru tidak diberi password sama sekali, sehingga anak dan remaja cukup rentan bisa mengakses konten-konten dewasa melalui situs ini. Terlebih lagi, seseorang yang mengunduh file dalam situs ini tidak harus menjadi anggota/mendaftar.

Dalam sebuah kasus, password tersebut tersebar di sejumlah website penyedia link mengunduh secara gratis. Tentu saja dengan adanya penyebaran password tersebut, Digital Natives dapat dengan mudah mencari tahu password, kemudian mengunduh file-file dengan konten dewasa tersebut.

Sementara itu, John Palfrey dan Urs Gasser (2008: 1-15) menyebutkan beberapa fakta lain tentang digital batives (anak-anak yang lahir ketika sudah ada era digital, sekitar tahun 1980an). Fakta-fakta tersebut sebagai berikut.

  • Generasi ini berbeda. Mereka belajar, bekerja, menulis, dan berinteraksi dengan orang lain melalui cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
  • Generasi ini menjalani sebagian besar waktunya di dunia maya (online), tanpa membedakan antara online dan offline.
  • Mereka lebih memilih untuk membaca blog dibanding surat kabar.
  • Mereka lebih memilih untuk bertemu orang lain secara online sebelum bertemu secara langsung.
  • Mereka mungkin tidak mengetahui bentuk kartu perpustakaan – meskipun memilikinya mereka mungkin tidak pernah menggunakannya.
  • Mereka mendapatkan musik secara online – seringkali secara gratis dan ilegal -daripada membelinya di toko musik.
  • Mereka lebih suka mengirimkan instant message (IM) daripada mengangkat telepon dari teman untuk mengatur waktu pertemuan pada siang hari.
  • Mereka mengadopsi dan bermain dengan binatang peliharaan melaui virtual Neopets secara online daripada bermain dengan hewan peliharaan yanf sesungguhnya.
  • Mayoritas aspek kehidupan mereka berupa interaksi sosial, pertemanan, aktivitas kemasyarakatan, dimediasi oleh teknologi digital. Mereka tidak pernah tahu kehidupan yang sesungguhnya.

 

Literasi media baru

Claire Bélisle (2006 dalam Martin, 2009: 7) mengajukan gagasan mengenai pentingnya literasi yang memungkinkan berbagai kemampuan untuk ditempatkan dalam konteks makna dan aksi sosial. Ia mengidentifikasi evolusi konsep literasi ini dalam tiga model.

 

Pertama, model fungsional yang melihat literasi sebagai penguasaan keterampilan kognitif dan praktis sederhana, dan berkisar dari pandangan sederhana dari literasi sebagai keterampilan mekanik membaca dan menulis ke pendekatan yang lebih maju (misalnya oleh UNESCO tahun 2006) tentang literasi sebagai keterampilan yang diperlukan untuk berfungsi secara efektif dalam masyarakat.

Kedua, model praktek sosial-budaya yang mengambil sebagai dasar bahwa konsep literasi hanya bermakna dalam konteks sosial, dan bahwa untuk menjadi literate adalah memiliki akses ke struktur budaya, ekonomi dan politik masyarakat.

Ketiga, model pemberdayaan intelektual berpendapat bahwa literasi tidak hanya keterampilan untuk menangani teks dan angka dalam konteks budaya dan ideologi tertentu, tetapi membawa pengayaan yang mendalam dan akhirnya memerlukan transformasi dari kapasitas pemikiran manusia. Pemberdayaan intelektual ini terjadi setiap kali manusia memperkaya dirinya dengan perangkat kognitif baru, seperti misalnya menulis dengan perangkat teknis baru, yang telah dipermudah dengan adanya teknologi digital.

Dalam melihat literasi dengan konteks digital maka dikenal istilah literasi digital. Istilah ini dipopulerkan oleh Paul Gilster (dalam Martin, 2009: 7), yang dalam bukunya dengan judul yang yang sama menjelaskan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber yang disajikan melalui komputer.

Konsepliterasi tidaksekadarbisa membaca dan menulis saja, melainkan selaluberarti kemampuanuntuk membacadengan maknadan pemahaman. Literasidigitaljuga telah memperluasbatas-batasdefinisi literasi sebelumnya.Tidak sekedar merupakan keterampilan dalam menemukan informasi namun jugakemampuan untuk menggunakanhal-hal itu dalamhidup.

Gilster mengidentifikasi berpikir kritis dibanding kompetensi teknis sebagai elemen inti dari literasi digital. Ia menekankan evaluasi kritis dari apa yang ditemukan di Web, daripada keterampilan teknis yang diperlukan untuk mengaksesnya. Dia juga menekankan penggunaan keterampilan yang relevan “bagi hidup kita” dan tidak sekedar keahlian atau kompetensi.

Sementara itu menurut Allan Martin, literasi digital adalah kesadaran, sikap dan kemampuan individu untuk dapat menggunakan alat digital dan fasilitas untuk mengidentifikasi, mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, menganalisis dan mensintesis sumber daya digital, membangun pengetahuan baru, mengekspresikan sesuatu melalui media, dan berkomunikasi dengan orang lain, dalam konteks situasi hidup tertentu, dalam rangka untuk mengaktifkan aksi sosial yang konstruktif, dan untuk merefleksikan proses ini. (Martin, 2006: 19)

Sama seperti halnya dengan tiga model evolusi literasi media di atas, maka literasi dapat dilihat dibayangkan pada tiga tingkatan (lihat bagan). Pada tingkat pertama merupakan penguasaan teknis kompetensi digital yang berupa keterampilan, konsep, pendekatan, dan sikap. Pada tingkat kedua berupa penggunaan digital yang mempertimbangkan aplikasi kontekstual. Ketiga, pada tingkat refleksi kritis yakni pemahaman tentang dampak manusia dan sosial transformatif dari tindakan digital. Model ini juga cocok digunakan dalam pendekatan untuk literasi komputer yang telah berkembang mencakup semua tiga tingkat.

Featured image

Tingkatan Dalam Literasi Digital (Martin, 2009)

Implikasi dari definisi tersebut adalah bahwa kita hanya dapat berbicara tentang literasi digital di tingkat II atau III. Kompetensi digital pada tingkat I adalah prasyarat bagi literasi digital, tetapi tidak dapat dikatakan sebagai literasi digital.

Pola interaksi anak dan remaja dalam menggunakan media pada masa kini, harus dilihat dalam perspektif yang berbeda. Dalam hal ini perlu diperhatikan konteks peran mereka sebagai kreator, penghubung, komunikator, dan kolaborator – daripada sekadar sebagai konsumen media. Menurut Erin Reilly, anak muda ini berpartisipasi dalam penciptaan dan distribusi konten media dalam jaringan sosial yang berkembang dari yang semula berupa lingkaran pertemanan face-to-face ke komunitas virtual yang sangat luas di seluruh dunia.

Hal-hal seperti itulah yang membedakan antara literasi media yang selama ini lebih berurusan dengan media konvensional atau media mainstream seperti media cetak dan elektronik, dengan media baru yang karakteristiknya sangat berbeda dengan media konvensional.

Hal yang sama sekali baru dalam literasi media baru misalnya adalah adanya unsur-unsur yang menonjol seperti partisipasi, kolaborasi, dan distribusi konten. Dalam literasi media yang konvensional, anak mudah didorong untuk mengajukan pertanyaan mengenai media yang masuk ke rumahnya. Kita tak bisa berasumsi bahwa mereka mengerti bagaimana merespon dan berinteraksi dengan membuat isi pesan mereka sendiri serta berbagi dengan teman-temannya. Namun, literasi media baru diperlukan untuk menerapkan cara terbaik dalam mengajar dan membimbing kaum muda melalui proses pembelajaran dan menjadi berpengalaman dalam menafsirkan, menggunakan, dan berbagi pesan.

Istilah literasi media baru ini sering disamakan dengan digital literacy atau literasi digital karena media baru dapat dikatakan identik dengan media digital, meskipun tidak selalu berarti Internet. Menurut Media Awareness Network (dengan memadukan rumusan dari National Broadband Plan Connecting Maerican Section 9.3, Digital Britain Media Literacy Working Group Section 3.16, dan Australia’s Digital Economy: Future Directions, p. 44), definisi mengenai literasi digital yang sudah cukup dikenal adalah:

Keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan berbagai perangkat lunak aplikasi media digital, perangkat keras seperti komputer, telepon selular, dan teknologi internet; kemampuan untuk secara kritis memahami konten media digital dan aplikasinya; dan pengetahuan dan kapasitas untuk menciptakanisi media dengan teknologi digital.

Jadi, dalam definisi tersebut terkandung tiga kata kerja yang merupakan karakteristik dari literasi digital, yaitu: use – understand – create. Artinya, literasi media mencakup kemampuan untuk menggunakan, memahami, dan memproduksi media digital. Penjelasan lebih jauh mengenai ketika komptensi tersebut adalah (Sumber: http://www.media-awareness.ca/english/corporate/media_kit/digital_literacy_paper_pdf/digitalliteracypaper_part1.pdf).:

  1. Menggunakan – merupakan keahlian teknis yang dibutuhkan untuk terlibat dengan komputer dan internet. Keahlian ini membentuk dasar untuk pengembangan literasi digital yang lebih dalam. Keterampilan teknis yang penting meliputi kemampuan untuk menggunakan program komputer seperti pengolah kata, web browser, e-mail, dan alat komunikasi lainnya. Untuk mengembangkan keterampilan ini, warga harus memiliki akses dan dapat memanfaatkan peralatan dan sumber daya dengan nyaman seperti layanan broadband, komputer, perangkat lunak, mesin pencarian Internet, dan database online.
  1. Mengerti – adalah kemampuan untuk memahami, mengontekstualisasikan, dan mengevaluasi media digital secara kritis. Individu harus menyadari pentingnya melakukan evaluasi secara kritis dalam memahami bagaimana konten dan aplikasi media digital dapat mencerminkan, membentuk, meningkatkan atau memanipulasi persepsi kita, keyakinan kita, dan perasaan kita tentang dunia di sekitar kita. Sebuah pemahaman kritis tentang media digital memungkinkan individu untuk menuai keuntungan – dan mengurangi resiko – serta berpartisipasi penuh dalam masyarakat digital. Keterampilan ini mencakup juga pengembangan keterampilan manajemen informasi dan penghargaan terhadap hak dan tanggung jawab terhaap kekayaan intelektual. Individu perlu tahu bagaimana menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif untuk berkomunikasi, berkolaborasi dan memecahkan masalah dalam kehidupan pribadi dan profesional.
  1. Memproduksi – adalah kemampuan untuk membuat konten dan berkomunikasi secara efektif menggunakan berbagai alat media digital. Produksi konten dengan menggunakan media digital tidak sekedar kemampuan untuk menggunakan pengolah kata atau menulis email: namun termasuk di dalamnya kemampuan berkomunikasi dalam berbagai konteks khalayak; untuk membuat konten dan berkomunikasi dengan menggunakan berbagai format seperti gambar, video, dan suara; dan untuk secara efektif dan bertanggungjawab memanfaatkan fasilitas “Web 2.0 user-generated content” seperti blog dan forum diskusi, berbagai video dan foto, game sosial, dan bentuk lain dari media sosial. Kemampuan untuk membuat dengan media digital memastikan bahwa seseorang tidak hanya konsumen pasif tetapi secara aktif berkontribusi dalam masyarakat digital.

Model literasi digital yang dikembangkan dari literasi media konvensional adalah seperti dalam gambar di bawah ini.

Featured image

 Sumber: Media Awareness Network (http://www.media-awareness.ca/english/corporate/media_kit/digital_literacy_paper_pdf/digitalliteracypaper_part1.pdf)

Skema di atas memperlihatkan kompetensi aktif seseorang yang memiliki kemampuan literasi digital, yang terdiri atas menggunakan, memahami, dan memproduksi konten. Di bawah payung literasi digital terdapat sejumlah keterampilan yang saling berhubungan mulai dari kesadaran dasar dan pelatihan untuk mendorong warga yang paham dan percaya diri hingga memiliki kemampuan literasi, kritis, dan kreatif yang canggih sebagai hasil akhirnya.

Panah yang ada dalam model itu menunjukkan adanya arah perkembangan yang makin meningkat ke arah transformatif meskipun tidak harus sekuensial karena tergantung pada kebutuhan individu.

Konsep literasi digital memperluas pengertian kita mengenai literasi media yang konvensional. Negara pengadopsi media literacy seperti Inggris saat ini telah mencanangkan literasi digital bersama dengan kecakapan hidup digital dan digital inclusion sebagai komponen penting untuk mendorong partisipasi digital.

Di pihak lain, pemerintah Australia kini telah memfokuskan kegiatan pendidikan medianya pada digital media literacy. ACMA (Australian Communication and Media Authority) menggambarkan digital media literacy sebagai kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk partisipasi yang efektif dalam ekonomi digital dan mendorong inklusi sosial dalam masyarakat yang berjaringan.

Infrastruktur dan akses fisik ke alat-alat digital merupakan dasar untuk digital literacy. Untuk memaksimalkan partisipasi, investasi di bidang infrastruktur haruslah disertai dengan investasi dalam pelatihan tentang cara menggunakan alat-alat ini. Pada gilirannya keterampilan praktis ini mendukung pengembangan keterampilan digital literacy yang lebih tinggi yang memungkinkan pengguna tidak sekadar berpartisipasi namun sampai ke area transformasi inovasi, aksi sosial yang konstruktif, serta pemikiran kritis dan kreatif.

Upaya menyusun indikator

Ketika orang berpikir tentang literasi, maka yang biasanya muncul adalah hal-hal yang berkaitan dengan membaca dan menulis, dan juga berbicara, serta mendengarkan. Hal-hal tersebut sebenarnya memang merupakan unsur dasar dari literasi. Tetapi karena pada saat ini orang menggunakan beragam jenis bentuk komunikasi, maka konsep literasi itu sendiri banyak mengalami berbagai penyesuaian. Namun secara umum konsep literasi pada dasarnya adalah kemampuan untuk berbagi makna dengan orang lain agar dapat berpartisipasi di masyarakat.

Literasi media baru memiliki ciri yang sangat menonjol dalam hal partisipasi. Hal ini bahkan ada yang menyebut sebagai budaya partisipasi. Sebuah budaya partisipatif adalah sebuah budaya dengan hambatan yang relatif rendah untuk ekspresi artistik dan keterlibatan masyarakat, dukungan yang kuat untuk menciptakan dan berbagi kreasi seseorang, dan beberapa jenis bimbingan informal, dimana apa yang dikenal oleh paling berpengalaman dilewatkan bersama untuk pemula.

Sebuah budaya partisipatif juga merupakan salah satu di mana para anggotanya percaya dengan kontribusi mereka, dan merasa memiliki kesamaan derajat hubungan sosial satu sama lain. Setidaknya, mereka peduli dengan apa yang orang lain pikirkan mengenai apa yang mereka ciptakan (Jenkins, 2007: 3).

Lebih jauh Jenkins menjelaskan bentuk-bentuk dari budaya partisipatif itu adalah afiliasi berupa keanggotaan dalam kelompok atau komunitas tertentu seperti facebook ataupun mailing list, ekrpresi dalam berbagai format dari tulisan sampai video, kerjasama dalam mengerjakan sesuatu (misalnya Wikipaedia) atau menyelesaikan masalah, dan sirkulasi ide atau informasi dengan orang lain.

Jenkins berusaha menggeser diskusi mengenai isu digital divide dari mempertanyakan akses terhadap teknologi ke mereka yang memiliki peluang untuk berpartisipasi dan mengembangkan kompetensi budaya dan keterampilan sosial yang diperlukan bagi keterlibatan yang penuh. Sekolah terlalu lambat dalam bereaksi terhadap munculnya bdaya partisipasi ini. Peluang terbesar untuk perubahan ditemukan dalam kegiatan sesudah jam sekolah dan belajar secara informal di masyarakat. Sekolah dan kegiatan sesudah jam sekolah perlu memberi perhatian lebih pada apa yang disebut dengan wawasan media baru.

Budaya partisipatif bergerak dari fokus literasi dari ekspresi individu kepada keterlibatn masyarakat. Literasi yang baru hampir melibatkan semua perkembangan keterampilan sosial melalui kerjasama dan jaringan. Keterampilan ini dibangun dengan dasar dari literasi tradisional, keterampilan meneliti, keterampilan teknis, dan keterampilan melakukan analisis kritis yang semuanya diajarkan di sekolah.

Penelitian mengenai bagaimana mengukur literasi media baru pernah dilakukan oleh Ioana Literat (2011) dari Annanberg School of Communication yang menggunakan kerangka kerja yang dikembangkan oleh Henry Jenkin. Ioana melakukan pengukuran dalam dua format data, yaitu kuantitatif dan kualitatif.

Dalam mengembangkan desain surveinya, Ioana membagi instrumennya dalam 4 bagian, yaitu: data demografis, kebiasaan dalam menggunakan media, literasi media baru, dan keterlibatan sebagai warga. Khusus mengenai literasi media baru, Ioana ingin melihat keterampilan literasi media respondennya mencakup kepribadiannya, keterlibatan sosial dan kultural, interaksi dengan teman secara online dan offline, gaya belajarnya, dan pola konsumsi dan kreasi media (Ioana, 2011).

Sedangkan keterampilan literasi media yang dirumuskan oleh Henry Jenkins tersebut mencakup (Jenkins, 2007):

  1. Bermain – kapasitas untuk bereksperimen dengan lingkungan seseorang sebagai bentuk pemecahan masalah
  2. Kinerja – kemampuan untuk mengadopsi identitas alternatif untuk tujuan improvisasi dan penemuan
  3. Simulasi – kemampuan untuk menafsirkan dan membangun model dinamis dari proses dunia nyata
  4. Kecocokan – kemampuan untuk memaknai informasi dan mengemas ulang konten media
  5. Multitasking – kemampuan untuk memindai lingkungan dan seringkali berpindah fokus perhatian
  6. Kognisi Terdistribusi – kemampuan untuk berinteraksi secara bermakna dengan peralatan yang dapat memperluas kapasitas mental
  7. Kecerdasan Kolektif – kemampuan pengetahuan kolam renang dan membandingkan catatan dengan lain menuju tujuan bersama Penghakiman – kemampuan untuk mengevaluasi keandalan dan kredibilitas informasi yang berbeda sumber
  8. Penilaian – kemampuan untuk mengevaluasi sumber informasi
  9. Navigasi transmedia – kemampuan untuk mengikuti alur cerita dan informasi dalam berbagai modalitas
  10. Jaringan – kemampuan untuk mencari, mensintesis, menyebarkan informasi
  11. Negosiasi – kemampuan untuk mendekati komunitas yang beragam, memahami berbagai perspektif, dan memegang serta mengikuti norma-norma

Jenkins lebih menekankan budaya partisipatif dan bukan pada interaktivitas karena interaktivitas adalah properti dari teknologi, sementara partisipasi adalah properti budaya. Budaya partisipatif muncul sebagai budaya yang menyerap dan merespon ledakan teknologi media baru yang memungkinkan bagi konsumen pada umumnya untuk menyimpan, memanfaatkan, dan menyebarluaskan konten media dengan cara-cara baru yang efektif. Sebuah fokus pada memperluas akses ke teknologi baru yang terjadi jika kita dapat mendorong keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan alat-alat tersebut tujuan kita sendiri (Jenkins, 2007: 8).

Dengan demikian, setidaknya telah ada perangkat untuk mengukur tingkat literasi media baru meskipun titik beratnya masih pada keterampilan atau skill, sementara unsur pengetahuan yang mendasari keterampilan, belum banyak dikembangkan.

Mengacu pada pendapat James Potter (2008: 19), maka dalam pengertian literasi media termasuk di dalamnya adalah persepektif yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menggunakan media. Perspektif itu terbentuk melalui struktur pengetahuan, yakni seperangkan informasi yang terorganisasi dalam memori seseorang dan terbentuk secara sistematis dalam waktu yang lama. Struktur membantu seseorang dalam melihat pola. Semakin banyak struktur pengetahuan dimiliki seseorang, akan dapat meningkatkan rasa percaya dirinya dalam memaknai berbagai pesan media. Dengan struktur pengetahuan yang berkembang, seseorang dapat memahami seluruh rentang isu media, dan dapat memahami mengapa media memiliki atau tidak memiliki kecenderungan tertentu.

 

Penutup

Sebagai sebuah gagasan awal, makalah ini mencoba mengajak kita untuk mulai memikirkan bagaimana menyusun sebuah instrumen untuk mengetahui tingkat literasi media baru. Sebagai sebuah bidang yang baru, langkah ini perlu segera dilakukan agar dapat mengimbangi perkembangan yang ada dan tidak tertinggal terlalu jauh dengan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Indikator yang baik tentu adalah yang dapat menggambarkan atau merefleksikan dengan tepat kondisi individu atau kelompok yang ingin kita ketahui. Kompleksitas sebuah indikator tentu tergantung dari kebutuhan dari tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Indikator bisa sederhana kalau yang ingin diketahui tidak banyak. Namun indikator juga bisa menjadi kompleks bila yang ingin diketahui cukup banyak dan saling memiliki keterkaitan. Namun ada cara lain untuk mengelompokkan hasil pengukuran melalui indikator tadi. Misalnya, dengan skala rendah – sedang – tinggi.

Sedangkan isu lain yang juga perlu diparhatikan adalah perbedaan yang mungkin akan muncul ketika sebuah indikator diterapkan pada kelompok usia tertentu – misalnya anak-anak – dan apakah masih tepat bila diterapkan pada orang dewasa. Kemudian, apakah indikator untuk responden di wilayah kota besar dengan akses internet yang tinggi, juga dapat digunakan untuk wilayah dengan akses internet yang sangat terbatas.

—–

REFERENSI

Buku

Aufderheide, P., ed. 1993. Media Literacy. A report of the national leadership conference on media literacy. Aspen, CO: Aspen Institute.

Brunner, Cornelia, and Tally, William. 1999. The New Media Literacy Handbook. New York: Anchor Books.

Buckingham, D. 2003. Media Education, Literacy, Learning and Contemporary Culture. Cambridge: Polity Press.

Guntarto, B. 2007. Pendidikan Media – Buku Pegangan Untuk Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Yayasan Pengembangan Media Anak dan UNICEF.

Jenkins, Henry. 2007. Confronting the Challenges of Participatory Culture: Media Education for the 21st Century. Chicago: MacArthur Foundation.

Kaiser Family Foundation. 2006. The Media Family: Electronic Media in the Lives of Infants, Toddlers, Preschoolers and Their Parents. California: Kaiser Family Foundation.

Palfrey, John. dan Gasser, Urs. 2008. Born Digital: Understanding the First Generation of Digital Natives. New York.

Potter, James W. 2008. Media Literacy 4th ed. Thousand Oaks: Sage Publications.

Tyner, Kathleen. 1998. Literacy in a Digital World: Teaching and Learning in the Age of Information. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

Yayasan Pengembangan Media Anak. 2010. Media Dalam Kehidupan Anak – Lembar Fakta 2006 – 2010. Jakarta: YPMA.

Jurnal

Brown, J. A. 1998. Media literacy perspectives. Dalam The Journal of Communication 48 (1):44-57.

Buckingham, D. 2007. Media education goes digital: an introduction. Dalam Learning, Media and Technology, 32 (2):111-119.

Guntarto, B. 2001. Internet and the New Media: Challenges for Indonesian Children. Dalam Media Asia, 28 (4):195-203.

Hobbs, R. 2004. A review of school-based initiatives in media literacy education. American Behavioral Scientist 48 (1):42-59.

Marten, Hans. 2010. Evaluating Media Literacy Education: Concepts, Theories and Future Directions. Journal of Media Literacy Education Vol 2(1), 1-22.

Artikel

Guntarto (ed). 2011. Kumpulan Makalah Workshop Nasional: Konsep dan Implementasi Media Literacy di Indonesia. Jakarta: YPMA.

Guntarto, et.al. 2011. Memahami Interaksi Remaja Dengan Internet: Referensi Untuk Guru dan Orangtua. Jakarta: Tim Kajian YPMA.

Literat, Ioana. 2011. Measuring New Media Literacies: Towards the Development of a Comprehensive Assessment Tool. Project New Media Literacies.

Martin, Allan. 2009. Digital Literacy fot the Third Age: Sustaining Identity in an Uncertain World. www.elearningpapers.eu.

Internet

http://ictwatch.com/internetsehat/2011/05/13/75-juta-pengguna-facebook-masih-di-bawah-umur/

http://www.asepz.com/2010/02/komnas-anak-ada-36-kasus-kejahatan-anak-remaja-dari-facebook/

http://www.media-awareness.ca/english/corporate/media_kit/digital_literacy_paper_pdf/digitalliteracypaper_part1.pdf

Literasi Media di Indonesia: Kemiripan Dalam Keragaman[*]

Oleh Hendriyani1 dan B. Guntarto2

(1Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia. 2Yayasan Pengembangan Media Anak.)
hendriyani.sos@ui.ac.id dan guntarto@gmail.com

 

Abstrak

Saat anak Indonesia sudah hidup dalam lingkungan yang jenuh akan media, aktivitas mempromosikan literasi media justru baru dimulai. Artikel ini mendeskripsikan konseptualisasi literasi media yang digunakan oleh beragam aktivis di Indonesia, yang diekspresikan dalam beragam program literasi media di berbagai wilayah. Artikel ini juga memetakan institusi literasi media, area kerja, tujuan kegiatan, serta siapa target setiap kegiatan.
Dengan menggunakan focus group discussion, data diperoleh dari para aktivis literasi media di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya –kota-kota yang memiliki tingkat penetrasi media yang tinggi.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa setiap wilayah memiliki aktivitas yang diadaptasi dengan kebutuhan lokal. Terdapat kesepakatan tentatif bahwa literasi media dapat didefinisikan sebagai kemampuan memanfaatkan media, termasuk kemampuan mencari informasi dan memproduksi isi media. Dalam definisi tersebut terbuka berbagai aktivitas literasi media. Sebagian besar aktivis berasal dari dunia akademik atau LSM yang mengutamakan anak sebagai target kegiatan. Mempromosikan literasi media masih menekankan pada usaha proteksi khalayak.

 Kata Kunci: Indonesia, literasi literacy, keluarga, khalayak.


Sekilas Konteks Indonesia

Sampai tahun 1991 keluarga di Indonesia, termasuk anak dan remaja, hanya memiliki akses sebatas pada beberapa media: media cetak (buku, majalah, surat kabar), radio, video, games elektronik, dan televisi (dengan 2 stasiun: TVRI dan RCTI). Dalam kurun dua dekade terjadi percepatan penetrasi media di Indonesia. Saat ini keluarga Indonesia telah dapat menonton siaran 11 televisi bersiaran nasional dan beberapa dari 105 stasiun lokal (Hendriyani dkk, 2011). Mereka yang berlangganan TV kabel atau memiliki parabola bahkan dapat menonton lebih banyak lagi saluran televisi. Kepemilikan media konvensional seperti TV, radio, video player, serta buku telah menjadi bagian dari rumah tangga di Indonesia. Media “baru” seperti komputer, games player, audio/MP3 player, internet, dan telepon selular juga banyak dimiliki oleh rumah tangga di Indonesia. Ketersediaan beragam media tersebut di rumah, serta di luar rumah, mempermudah anak dan remaja mengaksesnya.

Nielsen Media menemukan anak usia 5-9 tahun menghabiskan rata-rata 4 jam pada tahun 2000; 4,3 jam pada tahun 2005; dan 3,9 jam pada 2010 untuk menonton televisi. Sedang anak yang berusia 10-14 tahun menghabiskan rata-rata 4,2 jam pada tahun 2000; 4,6 jam pada 2005; dan 4,4 jam pada 2010 untuk menonton televisi (lihat Hendriyani dkk, 2011, dalam proses penerbitan). Bila ditambah dengan penggunaan media lain seperti komputer, internet, ponsel, ataupun electronic games player, jumlahnya waktu yang dihabiskan pasti lebih besar. Survey Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) di Jakarta terhadap anak 6-12 tahun tahun 2006 memperlihatkan bahwa anak menghabiskan rata-rata 7 jam per hari untuk menggunakan kombinasi media (cetak dan elektronik).

Waktu anak Indonesia menggunakan media serupa dengan waktu yang dihabiskan anak di Amerika Serikat dengan media. Survei Roberts, Foehr, Rideout, dan Brodie (1999) menemukan bahwa anak 2-18 tahun di AS mendapatkan terpaan media sebanyak 6,5 jam dalam sehari pada tahun 1998, yang meningkat menjadi 8,5 jam pada tahun 2004 (Roberts, Foehr, & Rideout, 2005). Survei terakhir di A.S. tahun 2009 bahkan menemukan bahwa anak dan remaja mendapat terpaan media sebanyak 10,75 jam per hari (Rideout, Foehr, & Roberts, 2010). Survei secara berkala di A.S. tersebut memperlihatkan bagaimana media telah menjadi bagian dari kehidupan anak dan remaja, tidak hanya dari segi waktu yang dipakai untuk mengakses media tetapi juga media apa saja yang dekat dengan anak dan remaja di A.S. Data tersebut juga menjadi salah satu landasan bagi berbagai berbagai institusi menyerukan perhatian pada relasi anak dan media. American Pediatric Association bahkan secara tegas menyerukan supaya orangtua mengontrol penggunaan media oleh anak mereka (lihat http://www.healthychildren.org ).

Dari penelusuran internet, suara kekhawatiran akan hubungan anak dengan media baru muncul secara eksplisit pada tahun 1991 dalam Seminar Anak dan Televisi yang diselenggarakan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan Asian Media Information and Communication Center (AMIC), di mana peserta mengemukakan kebutuhan untuk melindungi anak dari potensi dampak negatif televisi. Terjadi loncatan satu dekade sebelum muncul kegiatan mendidik khalayak media tentang efek media; dengan beragam nama kegiatan: pendidikan media, melek media, penyadaran media, pendidikan melek media, literasi informasi, dan cerdas bermedia. Berbagai makalah dalam Konferensi Pertama Melek Media pada Januari 2011 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) dan Rumah Sinema di Yogyakarta memperlihatkan bahwa penamaan yang berbeda merupakan implikasi dari persepsi yang beragam tentang literasi media, juga tumpang tindih kegiatan media literacy, media watch, dan media study.

Tulisan ini akan menjabarkan variasi definisi literasi media yang digunakan oleh para aktivis di Indonesia. Tulisan ini juga memetakan siapa saja aktivis literasi media, strategi dan kegiatan mereka, khalayak sasaran kegiatan, serta hambatan yang dialami di lapangan.
 

Tinjauan Literatur

Terdapat banyak variasi definisi literasi media yang dipakai di berbagai negara. Latar belakang yang berbeda membuat setiap negara memiliki cara memaknai dan menerapkan literasi media secara berbeda pula. Salah satu definisi yang dipakai secara luas adalah definisi dari the National Leadership Conference on Media Literacy yang merumuskan literasi media sebagai “kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan memroduksi media untuk tujuan tertentu” (Aufderheide, 1993, h. v). Definisi yang lebih praktis dikemukakan Potter (2005, h. 22) bahwa literasi media adalah “satu set perspektif yang secara aktif kita pakai untuk menafsirkan pesan-pesan dari media yang kita temui”. Departemen Pendidikan Kanada (1989) menekankan pada kemampuan berpikir kritis dalam kurikulum literasi media, sedang Kementerian Pendidikan Jepang menekankan pada kemampuan menggunakan media interaktif (Sakamoto & Suzuki, 2009). Media Awareness Network (2011) memperluas definisi literasi media untuk meliput media digital seperti komputer, ponsel, dan internet; meliputi perangkat keras dan perangkat lunaknya.

Setelah menelaah berbagai definisi literasi media, Rosenbaum dkk (2007) dan Martens (2010) menyimpulkan adanya kesepakatan bahwa literasi media setidaknya memiliki dua komponen dasar: pengetahuan dan keterampilan. Rosenbaum dkk (2007) menyebutkan bahwa pengetahuan dan keterampilan tersebut menyangkut hubungan antar khalayak, produsen, dan media; sedang Martens (2010) mengkategorikan pengetahuan dan keterampilan literasi media dalam empat aspek: industri media, pesan media, khalayak media, dan efek media. Walau berbeda dalam mengelompokkan subyek pengetahuan dan keterampilan literasi media, keduanya sepakat bahwa ada beberapa elemen dasar dalam literasi media, seperti (a) media itu dikonstruksikan, (b) setiap orang dapat mempersepsikan pesan yang sama secara berbeda, dan (c) ada pengaruh media terhadap khalayak.

Mempromosikan literasi media dapat dilihat sebagai usaha untuk melindungi sekaligus memberdayakan khalayak. Karena itu, program literasi media seringkali bertujuan untuk meningkatkan (a) demokrasi, partisipasi, dan kewarganegaraan aktif; (b) pengetahuan akan ekonomi, daya saing, dan keragaman pilihan; serta (c) belajar sepanjang hayat, ekspresi budaya dan pemenuhan pribadi (Livingstone, 2007).

 Metode

Dari penelusuran internet, kami berhasil memetakan 88 program atau kegiatan yang berhubungan dengan literasi media dalam kurun waktu 1991 hingga 2011. Mayoritas kegiatan dilakukan di pulau Jawa. Kami lalu mengirim email kepada lembaga-lembaga penyelenggara kegiatan literasi media untuk meminta rincian profil kegiatan mereka.

Penggalian data lebih lanjut dilakukan melalui lima focus group discussion (FGD) di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya; lima kota besar di Jawa dengan penetrasi media yang tinggi. FGD diikuti oleh 59 aktivis literasi media dengan beragam latar belakang: akademisi, LSM, pemerintah, dan Yayasan. Kegiatan dilakukan pada bulan Maret 2011.

FGD dilaksanakan dengan panduan pertanyaan berikut ini: (a) bagaimana lembaga mendefinisikan literasi media? (b) apakah isi atau unsur literasi media yang diangkat? (c) Apa saja strategi yang dipakai oleh lembaga? (d) siapa yang menjadi target atau penerima manfaat dari kegiatan literasi media tersebut? Dan (e) apa hambatan atau tantangan yang dihadapi oleh penyelenggara?

Data yang terkumpul dari penelusuran internet, angket email, dan FGD dianalisis dan diinterpretasikan dalam Workshop Nasional Media Literacy di Universitas Indonesia pada Mei 2011. Workshop diikuti 33 orang peserta dari 26 lembaga yang pernah atau sedang melaksanakan program literasi media antara tahun 2002 hingga 2011.

Temuan penelitian

Literasi media: latar, definisi, dan isi

Pemahaman akan literasi media setiap aktivis dipengaruhi oleh cara mereka memandang hubungan antara media dan masyarakat. Sebagian besar aktivis memiliki referensi literasi media yang serupa, namun aplikasi kegiatan mereka sesuaikan dengan konteks lingkungan yang mereka sasar.

Kekhawatiran akan media muncul karena adanya loncatan penetrasi media yang besar di Indonesia. Televisi misalnya, sebelum tahun 1991 penonton di Indonesia hanya dapat menonton siaran TVRI yang sangat terkontrol dan tanpa iklan. Dalam dua tahun (1991-1992) muncul lima stasiun TV swasta bersiaran nasional, penuh dengan iklan dan program impor yang seringkali memiliki isi yang eksplisit seksual.

Salah seorang peserta FGD memberi contoh lompatan budaya di televisi Indonesia dibandingkan dengan televisi di Amerika Serikat. Di AS perubahan budaya terjadi secara perlahan. Pada serial “I Love Lucy” (1957-1960) sang suami hanya mengatakan ‘Hi, Mom’ ketika pulang ke rumah, tanpa memeluk atau mencium istrinya. Dalam “Cosby Shows” (1970an) sang suami terlihat memeluk dan mencium istrinya. Setelah periode itu, adegan ciuman terdapat dalam sebagian besar proram televisi di AS. Transisi perlahan seperti ini tidak terjadi di televisi Indonesia, saat program televisi berubah menjadi “Baywatch” dalam semalam.

Khalayak televisi pun tidak memiliki pengetahuan cukup tentang program televisi. Masih banyak orangtua di Indonesia yang menganggap semua film kartun sebagai program anak-anak, terlepas dari isinya. Stasiun TV pun dengan mudah memberikan simbol “A” (Anak) ketika menyiarkan program kartun.

Media baru juga diserap oleh khalayak begitu saja. Peserta FGD lain berbagi pengalaman ketika ia pergi ke sebuah desa di Jawa Tengah. Masyarakat desa itu tidak pernah menggunakan komputer, terutama para orang tua, namun anak-anak muda di desa tersebut dengan fasih menggunakan Facebook atau Twitter melalui ponsel mereka. Peserta lain menekankan adanya kesenjangan digital antara generasi muda dan tua, bahkan di Jakarta. Banyak orangtua yang memberikan ponsel ke anak mereka dengan tujuan menjadi sarana komunikasi dengan anak-anak mereka, hanya untuk menemukan bahwa anak mereka paling sering menggunakan ponsel untuk bermain games.

Latar belakang kekhawatiran di atas mempengaruhi cara para aktivis mendefinisikan konsep literasi media di lembaga mereka. Beberapa merupakan adaptasi dari referensi internasional, seperti:

  • Literasi media adalah perspektif individu saat berinteraksi dengan media, muncul dalam bentuk perilaku terhadap media.
  • Literasi media adalah kemampuan untuk menggunakan media, bersikap kritis terhadap isi media, dan mengambil manfaat dari media.
  • Literasi media adalah pengetahuan tentang media dan bersikap kritis terhadap media.

Definisi lain lebih praktis, seperti:

  • Literasi media berarti mendidik orang untuk memilih dan menggunakan media secara bijak, tetapi tidak meminta mereka untuk berhenti menggunakan media.
  • Literasi media adalah praktik utuk mengonsumsi media dengan cara cerdas.
  • Literasi media adalah kemampuan untuk menghindari dampak negatif media.
  • Literasi media berarti memiliki pemahaman tentang proses media dan isinya.
  • Literasi media adalah kemampuan menggunakan media dan teknologi informasi untuk mendapatkan manfaat ekonomi tertentu.

Pemahaman akan konsep literasi media dan hubungan masyarakat dengan media dalam konteks setempat membuat setiap lembaga merumuskan strategi dan kegiatan literasi media secara berbeda. Lembaga yang memiliki target khalayak di pedesaan melihat bahwa televisi masih menjadi media yang dominan, terutama di kalangan anak dan dewasa. Karena itu, fokus pendidikan literasi media ditujukan pada televisi, misalnya tentang dampak televisi dan iklan atau bagaimana memilih program yang aman untuk anak-anak. Untuk lembaga yang memiliki target khalayak anak muda, remaja dan dewasa awal, pendidikan literasi media harus lebih mengarah pada penggunakan media sosial dan games elektronik yang dapat mereka akses dengan mudah melalui ponsel atau warnet.

Di lapangan seringkali aktivis media menemukan bahwa orangtua sungguh khawatir akan dampak negatif televisi terhadap anak-anak mereka, namun mereka sendiri penonton berat televisi, terutama pada kelompok ekonomi bawah dan menengah. Perubahan perilaku bermedia harus diajarkan pada orangtua terlebih dahulu, misalnya dengan meminta mereka tidak meletakkan televisi di kamar tidur.

Terdapat perdebatan hangat dalam beberapa FGD saat merumuskan definisi literasi media. Ada beberapa peserta yang tidak setuju untuk memberikan definisi karena khawatir definisi tersebut akan membatasi ruang lingkung kegiatan literasi media. Bagi peserta lain, definisi yang jelas dapat membantu orang membedakan kegiatan literasi media dengan kegiatan lain yang juga menyangkut media. Misalnya, sebuah organisasi menganalisis isi media dan mengirimkan laporan hasil analisis ke media atau pembuat kebijakan; apakah kegiatan ini termasuk dalam literasi media atau pengawasan media (media watch)? Contoh lain adalah saat beberapa akademisi meneliti penggunaan media oleh anak dan memasukkan hasil penelitian tersebut ke jurnal; apakah kegiatan ini termasuk dalam literasi media atau studi media (media studies)?

Dalam Workshop Nasional Media Literacy 2011 terdapat kesepakatan bahwa definisi literasi media seharusnya dapat menjawab masalah di atas namun juga mudah dipahami oleh masyarakat umum. Definisi literasi media sementara yang disepakati adalah: kemampuan memanfaatkan media secara kritis; mencakup pengetahuan tentang media, kemampuan untuk memilih dan mencari isi media, serta memroduksi isi media untuk kepentingan tertentu. Definisi ini masih tentatif dan terbuka untuk diubah bila perlu oleh para aktivis literasi media.

Workshop juga menghasilkan kesepakatan adanya tiga elemen dalam program literasi media: (a) mayoritas khalayak berada dalam posisi lemah dibandingkan dengan media, (b) terdapat proses untuk memberdayakan khalayak dalam berhubungan dengan media, sehingga (c) khalayak dapat kritis terhadap media. Ketiga unsur ini dapat dipakai untuk membedakan kegiatan literasi media dengan kegiatan lain. Peserta workshop juga sepakat bahwa literasi media berbeda dengan media study atau media watch, walau sangat mungkin untuk menggabungkan ketiganya dalah satu program literasi media. Misalnya, anak diminta untuk menganalisis beberapa iklan televisi sehingga mereka dapat paham akan unsur persuasi dalam sebuah iklan.

Aktor Literasi Media, Khalayak Sasaran, Strategi dan Tantangan

Aktivisi literasi media yang ada di Indonesia saat ini dapat dikategorikan dalam enam tipe kelompok. Kelompok pertama adalah LSM dan yayasan, seperti Masyarakat Peduli Media, Rumah Sinema, Bandung School of Communication Studies (BaSCom), Habibie Center, Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI), Yayasan Jurnal Perempuan (YJP), dan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA). Kelopok kedua adalah sekolah, seperti Lentera Insan Child Development and Education Center (CDEC), Rumah Belajar Semi Palar, dan Early Childhood Care & Development Resource Center (ECCD-RC). Dalam sebagian besar kegiatan literasi media, sekolah hanya menjadi khalayak sasaran, bukan aktor literasi media. Di beberapa sekolah negeri di Malang, Jawa Timur, guru aktif menjadi aktor kegiatan literasi media setelah melihat manfaat kegiatan ini bagi anak didik mereka.

Kelompok ketiga terdiri dari perguruan tinggi, terutama dengan latar Ilmu Komunikasi, seperti di UI, Unisba, Undip, UnPad, Paramadina, dan sebagainya. Kelompok keempat adalah masyarakat umum yang aktif meningkatkan literasi media di antara mereka sendiri. Beberapa desa di Sleman dan Solo (Jawa Tengah) memiliki “jam belajar”, saat televisi di setiap rumah dimatikan untuk periode jam tertentu untuk memberi waktu bagi anak mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar. Kelompok kelima berisi lembaga-lembaga yang tidak masuk dalam keempat kategori sebelumnya: pemerintah (seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak), Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia, Unicef, dan Unesco. Kelompok terakhir adalah gabungan dari berbagai lembaga, seperti Koalisi Kampanye Hari Tanpa TV (2006-2010) yang meminta keluarga dengan anak-anak untuk mematikan televisi selama satu hari dalam rangka Hari Anak Nasional.

Anak dan remaja menjadi kelompok penerima manfaat (beneficiaries) ‘favorit’ dalam banyak kegiatan literasi media karena kelompok usia ini dianggap sebagai kelompok yang paling rentan terhadap potensi dampak negatif media sehingga perlu dilindungi. Meski demikian, anak dan remaja jarang menjadi khalayak sasaran langsung dalam program literasi media. Beberapa lembaga seperti YPMA, PP Aisiyah, dan MPM menujukan program mereka untuk orangtua dan guru, dengan harapan bahwa para orangtua dan guru akan meneruskan kemampuan literasi media pada anak-anak (didik) mereka. Hanya beberapa organisasi seperti Rumah Sinema, Habibie Center, dan YJP yang menjadikan remaja SMA sebagai khalayak sasaran langsung mereka. Beberapa lembaga, seperti BaSCom dan LesPi menyasar langsung orang dewasa umum: pedagang kaki lima, komunitas nelayan, orang-orang tua, tokoh masyarakat perempuan, dan sebagainya. Terdapat pro dan kontra dalam melihat apakah pekerja media dapat dilihat sebagai kelompok sasaran program literasi media. Mereka yang pro melihat bahwa pekerja media sering kali tidak paham tentang media itu sendiri (bahwa media dikontruksi, media dapat mempengaruhi khalayaknya) sehingga mereka harus dididik tentang itu. Apalagi, sebagian besar pekerja media di Indonesia tidak berlatar belakang komunikasi atau jurnalistik hingga memiliki pengetahuan terbatas tentang sistem media. Mereka yang kontra melihat bahwa pekerja wajib meningkatkan profesionalisme mereka sendiri, termasuk menerapkan kebijakan atau peraturan tentang media.

Seminar, kuliah terbuka dan kampanye adalah strategi termudah, yang paling sering dipakai para aktor literasi media bila mereka ingin meningkatkan kesadaran tentang isu tertentu dalam literasi media, seperti membatasi waktu menonton televisi atau memilih program televisi yang aman untuk anak. Workshop/lokakarya dan pelatihan digunakan untuk meningkatkan literasi media lebih jauh, biasanya pada kegiatan yang memiliki guru-guru sebagai kelompok sasaran. Penelusuran internet kami hanya menemukan satu program yang mengintegrasikan kurikulum literasi media dalam kurikulum sekolah dasar atau menjadi ekstrakurikuler. Kegiatan ini dilakukan YPMA dengan dukungan Unicef pada 2006-2009.

Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi para aktivis literasi media di Indonesia. Kurangnya dukungan pemerintah menjadi salah satunya. Pemerintah tidak menganggap isu literasi media sebagai sesuatu yang mendesak, yang memerlukan tindakan segera, seperti narkoba, korupsi, kemiskinan, dan sebagainya. Kurangnya keterlibatan sebagai pembuat kebijakan juga menyebabkan literasi media tidak dapat diintegrasikan ke dalam sistem yang telah ada seperti sekolah atau rencana nasional.

Lebih buruk lagi, isu literasi media juga tidak dianggap sebagai isu ‘seksi’ oleh lembaga-lembaga donor hingga mereka hanya memberikan porsi dana yang sangat terbatas untuk literasi media. Akibatnya, sebagian besar program literasi media bersifat satu waktu, program berakhir ketika pendanaan berakhir. Keterbatasan dana membuat banyak aktivis literasi media melakukan proses jalan pintas, langsung melaksanakan program tanpa penilaian kondisi awal kelompok sasaran. Akibatnya, banyak aktivis yang terkejut dengan apa yang mereka temukan di lapangan. Seorang peserta FGD bercerita bahwa lembaganya pernah diminta memberikan pelatihan literasi internet untuk siswa sekolah menengah di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Ketika tiba di lokasi mereka menemukan bahwa siswa belum pernah menggunakan komputer dan sekolah tidak memiliki fasilitas komputer. Pihak sekolah menjelaskan bahwa mereka diminta untuk memberikan pelatihan literasi internet sebagai antisipasi jika siswa harus menggunakan internet dan komputer setelah lulus. Tidak adanya data tentang kondisi awal sebelum program literasi media dilaksanakan juga membuat para aktivis sulit mengevaluasi efektivitas program mereka, apalagi untuk menyatakan bahwa program tersebut telah meningkatkan literasi media kelompok sasaran.

Diskusi dan Rekomendasi

Temuan menarik dalam penelitian ini adalah bahwa sekolah bukan aktor utama dalam program-program literasi media. Hal ini berbeda dengan kondisi di Inggris, AS, Kanada, Australia, atau Jepang (lihat Duncan dkk, 2002; Bakar & Duran, 2007; Suzuki, 2009; Ofcom, 2011). Program literasi media di negara-negara tersebut terintegrasi dalam kurikulum sekolah dasar karena literasi media dianggap sebagai keterampilan untuk hidup (life skill) yang harus diperkenalkan sejak sangat muda. Di Indonesia, sekolah baru menjadi aktor literasi media bila telah merasakan manfaat program ini bagi para siswanya. Bagi mereka yang belum merasakan manfaatnya, program literasi media dianggap sebagai beban tambahan bagi guru yang telah menanggung kurikulum yang sangat padat. Sejauh ini, sekolah swasta lebih responsif terhadap program literasi media karena kurikulum mereka lebih fleksibel dan adanya kemampuan finansial untuk membiayai kegiatan ini.

Strategi seperti seminar, kuliah terbuka dan kampanye mungkin strategi termudah, lembaga dapat melakukannya hanya sekali lalu mengatakan, “kami telah mengadakan program literasi media.” Namun dalam jangka panjang strategi bersifat satu kali kegiatan ini akan merugikan proses promosi literasi media di Indonesia: membuang-buang energi untuk program yang tidak efektif, sehingga pada akhirnya mengurangi arti literasi media itu sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa rekomendasi yang dapat diberikan untuk pengembangan program literasi media ke depan. Pertama, semua pemangku kepentingan harus bekerja bersama-sama. Literasi media adalah kemampuan yang multifaset, perlu didekati dari berbagai perspektif. Para aktivis yang cenderung pada unsur proteksi literasi media perlu mengakui sisi positif media dan mendorong orang untuk belajar menggunakan media bagi keuntungan mereka. Sedang para aktivis yang cenderung pada unsur pemberdayaan juga perlu membuka mata akan potensi dampak negatif media –bahwa media tidaklah netral, melainkan hasil suatu konstruksi, khalayak perlu tahu bagaimana melindungi diri mereka dari sisi negatif media.

Peran yang sangat besar dari masyarakat mardani sebagai penggerak literasi media Indonesia merupakan hal yang sangat positif. Namun pemerintah sebagai pembuat kebijakan perlu memberi dukungan dalam bentuk regulasi terhadap media. Dukungan pemerintah juga diperlukan dalam integrasi literasi media dalam kurikulum sekolah yang telah ada atau, setidaknya, mendorong sekolah untuk membuka diri terhadap ide literasi media. Dalam semua kasus, pelaksanaan kegiatan literasi media di sekolah-sekolah membutuhkan dukungan dari para kepala sekolah, program akan berjalan bila kepala sekolah mendukung. Dukungan dari pemerintah akan membantu para aktivis literasi media meyakinkan para kepala sekolah dan guru akan manfaat program ini.

Kelompok sasaran yang perlu dilibatkan lebih aktif dalam kegiatan literasi media adalah guru. Biasanya, para guru menjadi kelompok paling mudah diyakinkan tentang perlunya literasi media karena mereka melihat bagaimana media telah mempengaruhi siswa mereka: datang terlambat di pagi hari karena menonton televisi hingga larut malam, siswa menggunakan kata-kata kasar yang mereka tonton dari TV, siswa tidak mengerjakan PR karena kecanduan games elektronik, dan sebagainya. Guru akan membutuhkan bahan ajar literasi media untuk dipakai di kelas, serta sebaiknya didampingi selama periode tertentu sampai yang bersangkutan dapat mengembangkan bahan ajarnya sendiri. Para guru dapat menjadi mitra strategis dalam program literasi media karena mereka memiliki kemampuan mempengaruhi para siswa dan para orangtua siswa.

Rekomendasi terakhir adalah untuk memperluas definisi media agar mencakup media digital, termasuk ponsel, games elektronik, dan internet. Berbagai media digital tersebut telah menjadi bagian dari hidup anak-anak di Indonesia, anak tumbuh dalam lingkungan jenuh media. Karena itu, lebih baik mendidik anak-anak bagaimana menggunakan media dengan benar daripada menghentikan mereka menggunakan media. Orang dewasa juga perlu memiliki literasi media digital agar mereka dapat membantu anak-anak mereka menggunakan media, hingga kesenjangan digital antar generasi dapat diperkecil.

 

Referensi

Aufderheide, P. (1993) Media literacy: A report of the National Leadership Conference on Media Literacy. Aspen, Aspen Institut.

Buckingham, D. (2005) The media literacy of children and young people: A review of the research literature on behalf of Ofcom. London, Ofcom. Available from: http://stakeholders.ofcom. Org.uk/ninaries/research/media-literacy/ml_children.pdf [accessed 19 April 2011].

Burn, A. & Durran, J. (2007) Media literacy in schools. London, Paul Chapman Publishing.

Duncan, B., Pungente, J., & Andersen, N. (2002) Media education in Canada. Available from: http://www.aml.ca/articles/articles.php?articleID=272 [accessed 8 March 2011].

Rideout, V.J., Foehr, U.G., & Roberts, D.F. (January 2010). Generation M2: Media in the lives of 8- to18-year-olds. Retrieved from Kayser Family Foundation website: http://www.kff.org/entmedia/upload/8010.pdf

Roberts, D.F., Foehr, U.G., & Rideout, V.J. (March 2005). Generation M: Media in the lives of 8-18 year-olds. Retrieved from Kayser Family Foundation website: http://www.kff.org/entmedia/upload/Generation-M-Media-in-the-Lives-of-8-18-Year-olds-Report.pdf

Roberts, D.F., Foehr, U.G., Rideout, V.J., & Brodie, M. (Nov 1999). Kids and media @ the new millennium. Retrieved from the Kayser Family Foundation website: http://www.kff.org/entmedia/upload/Kids-Media-The-New-Millennium-Report.pdf

Hendriyani, Hollander, E., d”Haenens, L., & Beentjes, J. (2011) Children’s television in Indonesia: Broadcasting polity and the growth of an industry. Journal of Children and Media, 5 (1) February, pp.86-101.

Hendriyani, Hollander, E., d”Haenens, L., & Beentjes, J. [2011] Children’s media use in Indonesia. The Asian Journal of Communication. Dalam proses penerbitan.

Livingstone, S. & Thumim, N. (2003) Assessing the media literacy of UK adults: a review of the academic literature. Available from: http://eprints.lse.ac.uk/21673/1/Assessing_the_media_literacy_of_UK_adults.pdf [accessed 19 April 2011].

Livingstone, S., Couvering, E.V., & Thumim, N. (2005) Adult media literacy: a review of the research literature on behalf of Ofcom. London, Ofcom. Available from: http://stakeholders.ofcom.org.uk/binaries/research/media-literacy/aml.pdf [accessed 19 April 2011].

Martens, H. (2010) Evaluating media literacy education: Concepts, theories, and future directions. Journal of Media Literacy Education 2 (1) 2010, pp. 1-22.

Media Awareness Network. (2011) What is digital literacy and why is it important? Available from http://www.media-awareness.ca/english/corporate/media_kit/digital_literacy_paper_pdf/digitalliteracypaper_part1.pdf [accessed 19 April 2011].

Ofcom. (2011) UK children’s media literacy. London, Ofcom. Available from http://stakeholders.ofcom.org.uk/binaries/research/media-literacy/medialit11/childrens.pdf [accessed 19 April 2011].

Potter, W. J. (2005). Media literacy. London, Sage.

Prihadi, S. D. (2009,). Pengguna Facebook Indonesia terbesar di Asia. Okezone, 13 November. Available from: http://techno.okezone.com/read/2009/11/13/55/275309/pengguna-facebook-indonesia-terbesar-di-asia [accessed 19 April 2011].

Sakamoto, A. & Suzuki, K. (2009) Media literacy: A new type of communication skill. Available from: http://ocha-gaps-gcoe.com/contents/Proceedings09_08Sakamoto%26Suzuki.pdf [accessed 28 April 2011].

Suzuki, K. (2009) Media education in Japan: Concepts, policies, and practices. In Chi-Kim Cheung ed. Media Education in Asia. New York, Springer Science.

Undang-undang Republik Indonesia tentang Penyiaran 2002.

Rosenbaum, J. E., Beentjes, J. W. J., & Konig, R. P. (2008) Mapping media literacy: Key concepts and future directions. Communication Yearbook, 32, pp. 313-353.

Wahono, T. (2010,). Indonesia Ranking 3 pengguna Facebook terbanyak. Kompas. 18 August. Available from: http://tekno.kompas.com/read/2010/08/18/14471684/Indonesia.Ranking.3.Pengguna.Facebook.Terbanyak

[*] Sebagian besar isi makalah ini pernah dipresentasikan dalam International Association of Media and Communication Research 2011di Istanbul, Turki. Lihat Hendriyani & Guntarto, B. (2011). Defining Media Literacy in Indonesia. Diakses melalui http://iamcr-ocs.org/index.php/2011/2011/paper/view/1169
Penulis berterima kasih kepada staf Yayasan Pengembangan Media Anak (Jakarta) yang telah mengoordinasi riset ini, juga kepada Universitas Paramadina (Jakarta), Universitas Islam Bandung, Universitas Diponegoro (Semarang), Padepokan Musa As’arie/PKMBP Yogyakarta, dan Universitas Petra Surabaya yang telah menjadi tuan rumah dalam Focus Group Discussion (FGD) di kelima kota ini. Terima kasih juga kami sampaikan untuk Puji Rianto yang telah menjadi moderator dan pembuat laporan FGD di Semarang dan Yogyakarta, serta seluruh aktivis literasi media yang secara sukarela menjadi narasumber semua FGD ini.

Hasil riset ini juga dipresentasikan dalam Workshop Nasional “Konsep dan Implementasi Media Literacy di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia dan Unicef. Untuk laporan wokshop lihat http://www.kidia.org/news/tahun/2011/bulan/05/tanggal/27/id/191/

“Potter: Media Literacy”

(Kompilasi Berbagai Definisi)

Oleh W. James Potter
(Diterjemahkan dari 21st Century Communication: A Reference Handbook. Sage Reference Online)

Literasi media adalah istilah yang cukup populer. Jika Anda melakukan pencarian literatur akademik menggunakan salah satu dari banyak database yang tersedia di perpustakaan universitas, Anda akan menemukan suatu tempat antara beberapa ratus dan beberapa ribu kutipan untuk buku-buku ilmiah dan artikel yang menggunakan istilah ini sebagai kata kunci. Dan ketika artikel ini ditulis pada tahun 2010, pencarian untuk media literacy di Google menghasilkan lebih dari 792.000 hits. Jelas, media literacy adalah topik yang populer di kalangan bukan hanya akademis tapi di antara masyarakat umum, yang meliputi orang tua, guru, aktivis sosial, dan pembuat kebijakan.

Dalam artikel ini, tidak mengejutkan bahwa terdapat banyak definisi media literacy. Bagian awal artikel ini akan ditunjukkan berbagai definisi tersebut dan apa saja isu-isu utama yang ada dalam berbagai macam definisi tersebut. Selanjutnya, dari isu-isu utama dalam definisi tersebut akan digambarkan bagaimana karakteristik orang yang memiliki literasi media.

Pendekatan yang berbeda

Berbagai Definisi

Informasi tentang topik ini yang begitu banyak adalah karakteristik yang sangat positif karena menunjukkan bahwa topik ini adalah sesuatu yang penting bagi banyak orang. Terdapat semangat yang besar yang menghasilkan banyak ide. Perhatikan berbagai definisi dalam tabel berikut ini. Beberapa definisi ini dibangun oleh para aktivis yang bekerja dalam kelompok; misalnya National Communication Association dan the National Leadership Conference on Media Literacy (Asosiasi Komunikasi Nasional, dan Konferensi Kepemimpinan Nasional Literasi Media). Kelompok media (seperti American Psychiatric Association) dan kelompok pemerintah (seperti Kantor Kebijakan Pengawasan Obat Nasional) juga telah membangun definisi tersendiri. Namun demikian, sebagian dari definisi ini dibangun oleh kelompok-kelompok kecil individu atau dibuat oleh kelompok aktivis warga yang menantang media massa dan mengkritik banyak praktek dan konten mereka.

Di antara para akademisi, ada juga yang memikirkan tentang literasi media. Beberapa sarjana berpendapat bahwa literasi media harus diperlakukan terutama sebagai masalah kebijakan publik (Aufderheide, 1993); sebagai isu budaya kritis (Alvarado & Boyd – Barrett , 1992); sebagai satu set alat pedagogis guru sekolah dasar (Houk & Bogart, 1974); sebagai saran untuk orang tua (DeGaetano & Bander 1996); sebagai spekulasi McLuhanesque (Gordon, 1971); atau sebagai topik penyelidikan ilmiah dari fisiologis (Messaris, 1994), pengetahuan kognitif (Sinatra, 1986), atau tradisi antropologi (Scribner & Cole, 1981). Beberapa penulis mencoba fokus terutama pada satu budaya, seperti budaya Amerika (Manley – Casimir & Luke, 1987), budaya Inggris (Buckingham, 1990; Masterman, 1985), atau budaya Chili (Freire, 1985), atau di beberapa negara dan/atau budaya (Brown, 1991; Scheunemann, 1996). Literasi media adalah istilah yang digunakan untuk mempelajari tafsir tekstual (Buckingham, 1998; Zettl, 1998), konteks dan ideologi (Lewis dan Jhally, 1998), dan penonton (Buckingham, 1998). Istilah ini juga digunakan sebagai sinonim dengan atau bagian dari pendidikan media (Sholle & Denski, 1994).

Tabel berikut ini menyajikan contoh dari beberapa definisi tersebut ilmiah . Sekali lagi , perhatikan rentang dalam definisi tersebut.

Definisi ‘Media Literacy’ oleh Akademisi

 No SIapa Difinisi
 1. Action Coalition for Media Education Mendorong pemikiran kritis dan kebebasan berekspresi, mengkaji sistem korporasi media, dan mendorong partisipasi aktif dalam masyarakat ( http://www.acmecoalition.org).
 2. Alliance for a Media Literate America Membangun pertanyaan kritis dan belajar tentang media dibanding dengan hanya menyalahkan media (www.amlainfo.org).
 3. American Psychiatric Association Daripada membiarkan media mempromosikan cara yang tidak tepat dalam menyelesaikan kekerasan, keterampilan memecahkan konflik yang melibatkan kesabaran dan negosiasi haruslah diajarkan (www.psych.org)
 4. Center for Media Literacy Sebuah kerangka kerja untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan isi pesan media. Perkembangan pemikiran kritis dan keterampilan memproduksinya sangat diperlukan untuk dapat hidup sepenuhnya di abad budaya media ke-21.
Juga didefinisikan sebagai kemampuan untuk berkomunikasi secara kompeten dalam segala bentuk media baik cetak maupun elektronik, dan kemampuan untuk mengakses, memahami, menganalisis, dan mengevaluasi kekuatan imej, serta kata-kata dan suara yang membentuk budaya media massa kontemporer kita. (www.medialit.org / pd_services.html # crash_course)
 5. Children Now Literasi media adalah cara untuk mendorong keterampilan menggunakan media secara kritis pada pemirsa muda (www.childrennow.org )
 6. Citizens for Media Literacy Cara berpikir kritis tentang TV dan iklan (www.main.nc.us/cml)
 7. Coalition for Quality Children’s Media (KIDS FIRST!) Kenali program yang menstimulasi secara intelektual dan kreatif; yang melampaui batas-batas ras, jenis kelamin, dan hambatan budaya; dan yang diproduksi dengan standar teknis dan artistik yang tinggi (www.kidsfirst.org/kidsfirst/html/whatcq.htm)
 8. Media Awareness Network Keterampilan berpikir kritis untuk “membaca” semua pesan yang berisi informasi, hiburan, dan sesuatu yang menjual kepada penonton setiap hari (www.media-awareness.ca)
 9. Media Education Foundation Kemampuan yang diperlukan untuk mengecek kembali imej media dan pengaruhnya terhadap bagaimana kita berpikir mengenai diri kita, mengenai politik, ekonomi, dan budaya dunia (www.mediaed.org)
 10. Media Watch Menolak stereotip yang tidak tepat serta bias lain yang seringkali ditemukan di media (www.mediawatch.com)
 11. National Communication Association Seseorang yang memiliki kemampuan literasi media memahami bagaimana kata-kata, gambar, dan suara dapat mempengaruhi bagaimana makna diciptakan dan disebarluaskan dalam masyarakat kontemporer dengan cara yang halus dan dalam. Orang yang memiliki kemampuan literasi media juga memiliki kemampuan untuk memberikan nilai, memperlakukan secara layak, dan memberikan makna terhadap penggunaan media dan pesan media (www.natcom.org)
 12. National Leadership Conference on Media Literacy Kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk (Aufderheide, 1993)
 13. The National Telemedia Council Kemampuan untuk memilih, untuk memahami – dalam konteks isi, bentuk/gaya, dampak, industri, dan produksi, mempertanyakan, mengevaluasi, untuk membuat dan/atau untuk memproduksi , dan menanggapi secara serius media kita konsumsi. Ini adalah perilaku mengkonsumsi secara sadar, dan penilaian yang reflektif (Considine, 1997) . Juga , kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan informasi dalam berbagai jenis media cetak serta format media nonprint (http://www.nationaltelemediacouncil.org)
 14. New Mexico Media Literacy Project Kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat pesan dalam berbagai media (www.nmmlp.org)
 15. Northwest Media Literacy Project Kemampuan untuk secara kritis menilai pesan media untuk memahami dampaknya terhadap kita, masyarakat kita, masyarakat kita, dan dunia kita. Ini juga merupakan gerakan untuk meningkatkan kesadaran media dan pengaruh mereka (www.mediathink.org)
 16. Office of National Drug Control Policy Untuk:
(a) mengenali bagaimana pesan media mempengaruhi kita (misalnya mengembangkan kosakata untuk mengenali teknik manipulatif, mengembangkan keterampilan untuk melindungi diri terhadap pesan tentang obat-obatan atau pilihan gaya hidup negatif yang tertanam di media);
(b) mengembangkan pemikiran kritis (misalnya memahami bahwa pesan media dibangun oleh orang-orang dengan sudut pandang dan kepentingan komersial, mengungkap nilai yang melekat dalam pesan media, mengevaluasi akurasi dan reliabilitas informasi), untuk meningkatkan harga diri (misalnya, secara kreatif menghasilkan pesan yang baik dan konstruktif). (www.nytimes.com/learning/teachers/ NIE/medialiteracy/intro.pdf)
 17. Adams dan Hamm (2001) Literasi media dapat dianggap sebagai kemampuan untuk menciptakan makna pribadi dari simbol-simbol visual dan verbal yang ada di televisi, iklan, film, dan media digital. Ini tidak sekedar bagaimana siswa memahami informasi. Mereka harus dapat berpikir kritis sehingga dapat memahami dan menghasilkan dalam kultur media yang berputar di sekitar mereka (hal. 33).
 18. Anderson (1981) Sekumpulan keterampilan, interpretasi, pengujian, dan penerapan informasi terlepas dari media yang digunakan atau representasi untuk tindakan yang disengaja (hal. 22).
 19. Barton dan Hamilton (1998) (dikutip dalam Margaret Mackey, 2002, pp. 5–6) Mereka mendefinisikan literasi sebagai sesuatu yang orang sering lakukan, yang berupa suatu kegiatan yang terletak di ruang antara pikiran dan teks media. Literasi tidak hanya berada di kepala orang sebagai seperangkat keterampilan yang harus dipelajari, dan itu tidak hanya berada di atas kertas yang dibaca sebagai teks untuk dianalisis. Seperti halnya semua aktivitas manusia, literasi pada dasarnya bersifat sosial dan terjadi dalam interaksi di antara orang (hal. 3).
 20. Hobbs (2001) Literasi adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk (hal. 7). Hobbs mengatakan definisi ini menunjukkan karakteristik sebagai berikut: pendidikan berbasis inquiry, pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemecahan masalah dalam kerjasama tim, alternatif untuk pengujian standar, dan kurikulum yang terintegrasi.
 21. Sholle dan Denski (1995) Penulis ini berpendapat bahwa literasi media harus dikonseptualisasikan dalam pedagogi kritis, dan dengan demikian harus dipahami sebagai praktik politik, sosial, dan budaya (hal. 17).
 22. Silverblatt dan Eliceiri (1997) dalam Dictionary of Media Literacy Mereka mendefinisikan literasi media sebagai keterampilan berpikir kritis yang memungkinkan khalayak media untuk menguraikan informasi yang mereka terima melalui saluran komunikasi massa dan memberdayakan mereka untuk mengembangkan penilaian independen tentang konten media (hal. 48).

Berbagai artikel tentang literasi media merupakan ide-ide besar yang kompeks dan tambal sulam. Banyaknya ide ini benar-benar menginspirasi, namun cukup sulit untuk memahami semua ide tersebut dan mendapatkan pemahaman mengenai esensi dari arti media literacy. Dalam menggambarkan kondisi ini, Zettl (1998 ) mengeluh bahwa kebanyakan artikel yang tersedia, buku, bahan kelas, dan informasi di Internet yang berhubungan dengan media literacy tampaknya tidak membantu banyak dalam menjawab pertanyaan, “Apakah media literasi?” (hal. 81).

Banyak ahli yang memiliki perasaan yang sama seperti Zettl mengungkapkan tentang ide mengenai literasi media yang cukup banyak, dan secara berkala kelompok tersebut telah bertemu dan berupaya menyusun definisi yang dapat diterima oleh semua. Sebagai contoh, pada tahun 1992, penggiat literasi media di AS yang tertarik dengan literasi media menyelenggarakan Konferensi Kepemimpinan Nasional Media Literasi dan setelah beberapa hari diskusi sepakat bahwa literasi media adalah “kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk” (lihat tabel). Dalam artikel ini, saya melanjutkan usaha untuk mensintesis definisi literasi media dari berbagai ide yang telah dikontribusikan selama ini. Sintesis ini dimulai pada bagian berikutnya dengan menyoroti isu-isu kunci yang mencakup tulisan-tulisan ini.


Isu Kunci

Mengingat banyak definisi tentang media literacy, maka penting untuk menemukan isu-isu kunci yang melintasi semua pemikiran ini. Artinya, kita perlu mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari berbagai rumusan dan definisi ini. Ada tiga isu utama atau isu kunci yang perlu disorot.

Yang pertama dari ketiga isu tersebut adalah “Apakah media itu?” Ketika kita berbicara tentang literasi media, maka kita harus mengklarifikasi media mana yang kita maksud. Seperti yang Anda lihat di bawah ini, ada berbagai macam perspektif. Beberapa ada yang fokus pada satu media (seperti televisi atau komputer), dan beberapa yang lain fokus pada jenis media (cetak atau bergambar), dan yang lainnya sangat luas dan mencakup semua bentuk berbagi informasi.

Isu kedua adalah “Apa yang kita maksud dengan literasi?” Sekali lagi, ada berbagai macam pemikiran. Beberapa menganggap literasi media terutama dalam hal peningkatan keterampilan. Ahli yang lain fokus pada pembangunan pengetahuan, sementara yang lain lagi mengambil perspektif bahwa literasi media membutuhkan baik pengembangan keterampilan maupun pembangunan pengetahuan.

Isu ketiga adalah “Apa yang seharusnya menjadi tujuan dari literasi media?” Kebanyakan penulis yang menjawab pertanyaan ini mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk meningkatkan kehidupan individu dalam beberapa cara, biasanya dengan memberi mereka kontrol atas bagaimana pesan media akan mempengaruhi mereka. Sejumlah besar penulis berbicara tentang tujuan literasi media dalam kurikulum pendidikan, dan beberapa lainnya berpendapat bahwa literasi media memiliki tujuan dalam aktivitas sosial.

Apa Itu Orang Yang Media-Literate?

Seperti dapat dilihat dalam analisis di atas mengenai definisi literasi media, ada berbagai jenis definisi dan berbagai posisi yang diambil terhadap tiga isu utama yaitu apa yang dimaksud dengan media, apa jenis literasinya, dan apa tujuan dari literasi media. Namun demikian, adalah penting untuk dicatat bahwa para ahli yang menulis tentang literasi media dan berada pada satu sudut pandang tertentu tidak berlawanan dengan sudut pandang yang lain; yaitu bahwa posisi mereka yang berbeda tidak menimbulkan pertentangan. Sebaliknya, penulis yang lain memilih untuk menekankan aspek yang berbeda dari fenomena kompleks literasi media. Hal ini penting untuk diperhatikan pada saat kita mencoba untuk mengorganisasikan berbagai pemikiran tersebut. Oleh karena itu, kita perlu melihat literasi media dari sisi pandang yang luas, yaitu mencoba untuk mempertimbangkan berbagai ide dan pemikiran yang saling melengkapi. Untuk maksud tersebut, rumusan di bawah ini mencoba memberikan gambaran tentang apa yang perlu dipikirkan dan dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan literasi media. Ada sembilan karakteristik sebagai berikut:

  1. Keterampilan dan informasi, keduanya adalah hal yang penting. Jika kita memiliki banyak informasi tetapi tidak mampu mengolahnya, kita tidak akan dapat mengambil banyak manfaat. Informasi tersebut cenderung akan disimpan dalam ingatan kita, tetapi tidak akan dievaluasi dan diintegrasikan ke dalam struktur pengetahuan yang berguna. Keterampilan diperlukan dalam memilah-milah informasi dan mengaturnya. Keterampilan itu mencakup analisis, evaluasi, pengelompokan, induksi, deduksi, abstraksi, sintesis, dan ekspresi persuasif. Di sisi lain, jika kita memiliki keterampilan yang kuat tetapi tidak mengekspos diri terhadap berbagai pesan media atau pengalaman dunia nyata, maka struktur pengetahuan kita akan sangat terbatas dan tidak seimbang. Bidang utama dari pengetahuan tadi mencakup pengetahuan tentang industri media, isi media, efek media, informasi dunia nyata, dan pengetahuan tentang diri kita sendiri. (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang keterampilan dan komponen pengetahuan, silakan lihat Potter, Media literacy, 2013).
  1. Literasi media adalah sekumpulan perspektif dimana kita membuka diri kita pada media dan menafsirkan makna dari pesan yang dibawanya. Kita membangun perspektif kita dari struktur pengetahuan. Struktur pengetahuan membentuk dasar dimana kita berdiri untuk melihat fenomena media yang memiliki banyak sisi, yaitu organisasi media, konten media, dan pengaruhnya terhadap individu serta Semakin banyak struktur pengetahuan yang kita miliki, semakin banyak fenomena media yang kita bisa “lihat”. Dengan semakin berkembangnya struktur pengetahuan kita, akan semakin banyak konteks yang kita miliki yang dapat membantu kita memahami apa yang kita lihat di media.
  1. Literasi media harus dikembangkan. Tidak ada orang yang lahir dengan kemampuan literasi Literasi media harus dikembangkan, dan pengembangan ini membutuhkan usaha dari setiap individu. Pengembangan ini juga merupakan proses jangka panjang yang tidak pernah berakhir. Tidak ada orang yang memiliki kemampuan literasi media secara lengkap dan sempurna. Keterampilan literasi media harus selalu dikembangkan. Jika tidak, maka kemampuan itu akan terhenti. Selain itu, struktur pengetahuan tidak pernah ada batasnya karena media dan dunia nyata yang terus berubah.
  1. Literasi media bersifat multidimensi. Informasi dalam struktur pengetahuan tidak terbatas pada unsur kognitif saja tetapi juga harus mengandung unsur-unsur emosional, estetika, dan moral. Empat jenis elemen bekerja sama dimana kombinasi dari masing-masing ketiga jenis elemen lainnya membantu mememberikan konteks untuk jenis yang Struktur pengetahuan yang kuat berisi informasi dari keempat elemen tersebut. Jika ada salah satu jenis informasi yang hilang, maka struktur pengetahuan itu akan menjadi kurang rinci dari yang seharusnya. Sebagai contoh, orang-orang yang memiliki struktur pengetahuan tanpa informasi emosional, akan tetap dapat melakukan analisis dan mengutip banyak fakta tentang sejarah genre film ketika mereka menonton film bahkan memahami sudut pandang produsernya. Namun jika tidak dapat merasakan reaksi emosionalnya, mereka hanya melakukan sesuatu yang bersifat akademis saja serta kering.
  1. Literasi media tidak terbatas pada satu media. Ide dasarnya adalah bahwa pemahaman awal tentang literasi hanya terbatas pada membaca saja dan lebih jauh pada mengenali simbol. Hal inilah yang menjadi dasar dari literasi untuk media Namun literasi media adalah sesuatu yang jauh lebih luas, yaitu membangun makna dari pengalaman dan konteks yang ada (ekonomi, politik, budaya, dll). Setiap media memiliki karakteristik yang berbeda, misalnya dalam menggunakan simbol-simbol, cara memandang khalayak, motivasi mereka dalam melakukan bisnis, dan estetika yang mereka gunakan. Semakin seseorang mengetahui perbedaan-perbedaan ini, mereka akan semakin dapat menghargai persamaan dan semakin mereka dapat memahami bahwa pesan memiliki sifat yang sensitif terhadap medium yang digunakan.
  1. Orang yang memiliki kemampuan literasi media menunjukkan pemahaman bahwa manfaat literasi media adalah untuk melakukan kontrol yang lebih besar atas eksposur dari media dan proses pemaknaan. Tujuan seserorang agar menjadi lebih memiliki kemampuan literasi media adalah untuk mendapatkan kontrol yang lebih besar dari eksposur seseorang terhadap media, dan untuk membangun sendiri makna atas pesan-pesan media. Ketika mereka melakukan hal ini, mereka berada dalam kendali untuk menentukan apa yang penting dalam hidup dan menetapkan harapan bagi pengalaman tersebut. Jika mereka tidak melakukan hal ini untuk diri mereka sendiri, maka banjir pesan media akan menggantikan kendali mereka. Media tidak hanya akan mengatur agenda kita dan memberitahu orang-orang mengenai apa yang harus dipikirkan, namun media juga akan menetapkan standar untuk hal-hal penting dalam hidup. Misalnya, standar sukses seseorang, kebahagiaan, sifat-sifat seseorang, dan keindahan. Media akan menetapkan sebuah standar yang mustahil tentang bagaimana kita harus menjalani hidup kita, penampilan tubuh seseorang, kecepatan mencapai sukses dalam karir, nilai dari barang-barang material, dan intensitas hubungan.
  1. Literasi media harus terkait dengan nilai-nilai. Masterman (2001) berpendapat bahwa pendidikan literasi media “tidak berusaha untuk memaksakan nilai-nilai budaya tertentu”. Dia melanjutkan, “Ini tidak berusaha untuk memaksakan ide-ide tentang apa yang merupakan ‘ baik’ atau ‘buruk’ dalam televisi, surat kabar, atau film” (hal. 41). Pendapat itu mengandung nilai tertentu. Meskipun para pendidik literasi media tidak dapat mendefinisikan mana pesan buruk dan baik, mereka menyiratkan bahwa mengakses media tanpa berpikir adalah sesuatu yang tidak baik, dan bahwa menafsirkan pesan secara aktif adalah sesuatu yang Masalahnya bukan pada apakah literasi media sarat nilai atau tidak. Sebaliknya, isunya difokuskan pada identifikasi apa nilai-nilai tersebut dan siapa yang mengontrolnya.
  1. Orang yang memiliki literasi media meningkatkan eksposur terhadap media secara sadar. Seseorang yang memiliki perspektif yang luas pada fenomena media, memiliki potensi tinggi untuk bertindak dengan cara seperti orang yang memiliki literasi media yang tinggi. Kumpulan struktur pengetahuan tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat literasi media. Orang tersebut harus secara aktif dan penuh kesadaran menggunakan informasi dalam struktur pengetahuannya selama dia terpapar pesan media. Dengan demikian, orang-orang yang lebih tinggi tingkat literasi medianya menghabiskan lebih sedikit waktu untuk memproses pesan secara Mereka lebih sadar terhadp paparan media dan secara sadar membuat keputusan tentang penyaringan psan, dan membangun pemaknaan. Ini bukan berarti bahwa orang-orang yang memiliki tingkat literasi media yang tinggi tidak menghabiskan banyak waktu dalam pengolahan otomatis. Mereka tetap melakukannya. Namun demikian, pada saat mereka berada dalam kondisi otomatis, mereka sedang diatur oleh media.
  1. Orang yang memiliki tingkat literasi media yang tinggi menunjukkan pemahaman bahwa literasi media adalah sebuah kondisi yang terus bertambah, bukan bersifat kategorikal. Literasi media bukan bersifat kategorikal dimana seseorang memiliki atau tidak memiliki literasi media. Sebaliknya, literasi media lebih tepat dipandang sebagai sebuah kontinum seperti informasi yang ditunjukkan dalam termometer, dimana ada derajat yang tinggi dan derajat yang rendah. Kita semua menempati dalam beberapa posisi pada literasi media yang bersifat Tidak ada gunanya mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki literasi media sama sekali, dan tidak ada titik di ujung yang tinggi dimana kita dapat mengatakan bahwa seseorang memiliki tingkat literasi media yang sempurna. Selalu ada ruang untuk meningkatkan literasi media. Orang-orang diposisikan sepanjang kontinum yang didasarkan pada kekuatan perspektif mereka secara keseluruhan terhadap media. Kekuatan perspektif seseorang, didasarkan pada jumlah dan kualitas struktur pengetahuan yang mereka miliki. Dan kualitas struktur pengetahuan didasarkan pada tingkat keterampilan dan pengalaman mereka. Karena orang-orang bervariasi secara substansial pada keterampilan dan pengalaman, mereka akan bervariasi pula pada jumlah dan kualitas struktur pengetahuan mereka. Oleh karena itu, akan ada variasi yang besar dalam literasi media di masyarakat.

Orang-orang yang beroperasi pada tingkat literasi media yang rendah memiliki perspektif yang lemah dan terbatas tentang media. Mereka memiliki struktur pengetahuan yang lebih kecil, lebih dangkal, dan kurang terorganisir, yang memberikan perspektif yang tidak memadai untuk digunakan dalam menafsirkan makna pesan media. Orang-orang ini biasanya enggan atau tidak mau menggunakan keterampilan mereka yang tetap terbelakang dan karena itu lebih sulit untuk kemungkinannya untuk berhasil.


K
esimpulan

Terdapat banyak kegiatan ilmiah yang menghasilkan berbagai ide tentang bagaimana literasi media yang seharusnya, tujuan-tujuannya, dan teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun demikian, semua aktivitas ilmiah ini belum diterjemahkan ke dalam definisi yang jelas yang bisa diakses oleh semua akademisi literasi media dan praktisi. Orang-orang terus berdebat tentang elemen mana yang paling penting dalam literasi media.

Di antara berbagai pemikiran tentang literasi media, ada beberapa tema yang mendasari pemikiran tersebut. Literasi media harus dikembangkan, dan pengembangan itu membutuhkan penggunaan keterampilan untuk membangun struktur pengetahuan. Struktur pengetahuan tentang media dan dunia nyata kemudian membentuk perspektif yang kita gunakan untuk memahami media. Oleh karena itu keterampilan dan pengetahuan menjadi penting. Literasi media tidak terbatas pada satu media saja melainkan memberikan perspektif untuk memahami semua jenis konten yang disajikan oleh berbagai media. Tujuan dari literasi media adalah untuk membantu orang mengembangkan pemahaman yang lebih besar sehingga mereka dapat mengontrol pengaruh media pada mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kontrol yang lebih besar tidak hanya membatasi terhadap paparan media. Sebaliknya, kontrol yang lebih besar dimulai dengan kemampuan untuk mengetahui perbedaan antara pesan-pesan media yang dapat meningkatkan kehidupan seseorang dan pesan-pesan yang mungkin akan membahayakan diri sendiri. Pemahaman ini dapat menyebabkan orang untuk menggunakan media sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka sendiri daripada membiarkan media untuk menggunakannya sebagai alat untuk mencapai tujuan media. Terakhir, nilai adalah hal yang penting. Orang-orang yang memiliki pemahaman yang jelas tentang nilai-nilai moral, emosional, dan estetika mereka sendiri akan cenderung untuk tidak menerima nilai-nilai yang disajikan dalam pesan media tanpa mempertanyakannya terlebih dahulu.

Format pengutipan sumber aslinya:
Potter, W. James. “Media Literacy.” 21st Century Communication: A Reference Handbook. 2009. SAGE Publications. 13 May. 2010. <http://www.sage-ereference.com/communication/Article_n62.html&gt;.

Mohon maaf, daftar referensi artikel ini tercecer dan belum ditemukan.